Kalbe Farma Incar Pertumbuhan Ekspor Dua Digit

PT Kalbe Farma Tbk. hendak menggejot pendapatan dari pengiriman produk ke luar negeri hingga dua digit tahun ini. Perseroan berharap bisa menutup buku 2018 dengan nilai transaksi ekspor sebesar Rp1 triliun.
Muhammad Khadafi | 29 Juli 2018 21:10 WIB
Aktivitas di pabrik Kalbe Farma di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat - Reuters/Enny Nuraheni

Bisnis.com, BATAM – PT Kalbe Farma Tbk. hendak menggejot pendapatan dari pengiriman produk ke luar negeri hingga dua digit tahun ini. Perseroan berharap bisa menutup buku 2018 dengan nilai transaksi ekspor sebesar Rp1 triliun.

Kotribusi pengapalan ke luar negeri terhadap pendapatan pun diharapkan naik 100 basis poin menjadi 6%.

Direktur Utama Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan hal itu akan dicapai dengan memaksimalkan pasar yang sudah ada saat ini. Sejumlah produk sudah menguasai pasar di negara destinasi.

“Seperti Diabetasol sudah nomor 1 di Filipina. Mixagrip nomor satu di Myanmar dan Nigeria. Woods nomor dua di Singapura dan Malaysia. Pasar Asia Tenggara relatif cukup baik,” katanya kepada Bisnis usai pembukaan kejuaraan futsal Hydro Coco di Batam, Kepulauan Riau, Jumat (27/7/2018).

Selain dari negara tujuan yang sudah berjalan, Kalbe juga telah menambah destinasi ekspor sejak paruh pertama tahun ini.

Minuman kelapa dalam kemasan, Hydro Coco tengah mencoba peruntungan di Timur Tengah, China, dan Hongkong.

Menurut Vidjongtius, alasan merambah pasar baru dengan minuman kesehatan adalah karena lebih cepat melihat hasilnya. “Tidak seperti obat, kalau minuman itu dia cepat butuh. Kalau sudah beli, mereka tidak suka, tidak akan beli lagi,” katanya.

Selain itu Hydro Coco juga dipilih karena diproduksi dan menggunakan bahan baku dari Indonesia. Kepulauan Riau menjadi pemasok kelapa untuk produksi minuman tersebut.

Adapun selain negara yang disebutkan sebelumnya, Kalbe juga tengah mengincar Amerika Serikat. Akan tetapi perseroan masih terganjal dengan kondisi dan sejumlah aturan baru.

INVESTASI

Vidjongtius melanjutkan KLBF akan meneruskan investasi yang berjalan. Dari total rencanan investasi yang digelontorkan, Rp1 triliun hingga Rp1,5 triliun, sebanyak lebih dari 50% di antaranya sudah digunakan. Pembagunan pabrik akan terus dilanjutkan pada semester kedua tahun ini.

Sebanyak Rp200 miliar atau sekitar 13% dari total rencana investasi diserap oleh pembangunan pabrik obat di Myanmar.

Perseroan berkolaborasi dengan perusahaan lokal mendirikan pabrik obat bebas atau over the counter (OTC) di negara tersebut. Ekspansi ini menambah daftar pabrik perseroan di luar negeri setelah sebelumnya di Nigeria.

Myanmar dipilih karena menjadi pasar potensial. Pasalnya, negara itu memiliki jumlah penduduk yang banyak serta membutuhkan obat kategori OTC.

“Pembangunan mulai tahun ini. Selesainya kira-kira hampir 2 tahun,” kata Vidjongtius.

Kalbe optimistis pembukaan pabrik baru tersebut akan menggenjot distribusi obat bebas KLBF di Myanmar. Selain itu, peluang untuk mengisi pasar di negara sekitar juga terbuka lebar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kalbe farma

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top