Margin Menebal, Laba PBID Terkerek Hampir 44%

Kenaikan margin bersih dan margin kotor tersebut salah satunya didorong oleh ekspansi pabrik kami yang berada di Jawa Tengah yaitu di Solo. Pabrik di Solo didukung oleh biaya tenaga kerja yang kompetitif sehingga meningkatkan gross margin kami, ungkap Lukman saat dikonfirmasi Bisnis, Minggu (29/7).
Dara Aziliya
Dara Aziliya - Bisnis.com 29 Juli 2018  |  16:10 WIB
Margin Menebal, Laba PBID Terkerek Hampir 44%
IPO PBID di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (web)

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten Plastik PT Panca Budi Idaman Tbk. membukukan kenaikan laba bersih signifikan sebesar 43,88% sepanjang semester I/2018, terkerek oleh kenaikan volume sekaligus margin penjualan produk perseroan.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan akhir pekan lalu, emiten dengan kode saham PBID tersebut membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp141,36 miliar, meningkat 43,8% dibandingkan semester I/2017 (yoy) sebesar Rp97,7 miliar.

Kenaikan laba bersih perseroan tersebut meningkat lebih tinggi dibandingkan kenaikan penjualan. Laporan keuangan perseroan menunjukkan PBID membukukan pendapatan usaha bersih sebesar Rp1,9 triliun, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp1,61 triliun.

Sekretaris Perusahaan Panca Budi Idaman, Lukman Hakim menyampaikan margin bersih perseroan meningkat menjadi 7,2% dari 6,1%, sedangkan margin kotor perseroan pada semester I/2018 mencapai 15,5% dari sebelumnya hanya 13,6%.

“Kenaikan margin bersih dan margin kotor tersebut salah satunya didorong oleh ekspansi pabrik kami yang berada di Jawa Tengah yaitu di Solo. Pabrik di Solo didukung oleh biaya tenaga kerja yang kompetitif sehingga meningkatkan gross margin kami,” ungkap Lukman saat dikonfirmasi Bisnis, Minggu (29/7).

Berdasarkan catatan perseroan, volume produksi pabrik plastik di Solo meningkat 15% dibandingkan semester I/2017. Pabrik di Solo tersebut merupakan andalah perseroan untuk meningkatkan penjualan di wilayah Timur Indonesia, namun turut memasok keperluan plastik di wilayah Barat.

Dengan dukungan biaya tenaga kerja yang lebih murah, perseroan juga secara konsisten memperbesar kapasitas produksi total pabrik di Solo. Selain biaya tenaga kerja yang murah, area pabrik yang cukup luas pun mendorong perseroan untuk rutin mengekspansi pabrik tersebut.

Lukman mengungkapkan selain meningkatkan volume produksi karena kenaikan permintaan plastik, perseroan juga melakukan efisiensi pada seluruh pabrik sehingga margin kotor perseroan meningkat. Adapun, saat ini PBID memiliki 7 pabrik yang terletak di beberapa kota besar.

“Untuk pasar wilayah Timur, kami sudah masuk ke Makassar, Bali, dan beberapa kota terus kami kirimkan. Pasar Indonesia bagian Timur dan Tengah masih sangat menjanjikan karena pertumbuhan ekonomi penduduknya berkembang,” jelas Lukman.

Adapun, perseroan membukukan kenaikan volume produksi total sebesar 10,6% untuk seluruh pabrik yaitu dari 75.789 ton per tahun per akhir Desember 2017, menjadi 83.797 ton per tahun per 30 Juni 2018. Hingga akhir tahun ini, perseroan menargetkan volume produksi dapat mencapai 90.000 ton per tahun.

Kendati membuukan kenaikan laba bersih signifikan pada semester I/2018, perseroan tetap mempertahankan target laba bersih 2018 sebesar 12% dengan mengandalkan kenaikan penjualan sekaligus efisiensi lini produksi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top