REKOMENDASI SAHAM: Bank Mandiri (BMRI) Masih Layak Beli?

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. masih membukukan kinerja yang ciamik pada semester pertama tahun ini.
Emanuel B. Caesario | 25 Juli 2018 07:22 WIB
Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk. Kartika Wirjoatmodjo (dari kanan), Wakil Direktur Utama Sulaiman A. Arianto, Direktur Kepatuhan Agus Dwi Handaya, dan Direktur Kelembagaan Alexandra Askandar, menghadiri Silaturahmi Anak Negeri 2018; Bersama Dalam Kebhinnekaan, di Solo, Kamis (7/6). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. masih membukukan kinerja yang ciamik pada semester pertama tahun ini.

Perseroan mencatat kenaikan laba bersih 29% secara year-on-year (yoy) dari Rp9,5 triliun pada semesterI/2017 menjadi Rp12,2 triliun per Juni tahun ini. Pada kuartal kedua saja, nilai laba bersih mencapai Rp6,5 triliun, tumbuh 10,4% secara kuartalan dan tumbuh 20,7% yoy.

Pendapatan bunga bersih perseroan (NIM) masih tumbuh terbatas 3,7% yoy, tetapi pendapatan non bunga tumbuh 20,6% yoy. Pertumbuhan pinjaman mencapai 4,6% secara year-to-date (ytd), lompatan yang cukup tinggi dalam 5 tahun terakhir.

Hal ini menjadi alasan kuat bagi sejumlah sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli atas saham berkode BMRI ini, walaupun sepanjang tahun ini harga sahamnya sudah turun 18,44% ke level Rp6.525 pada penutupan perdagangan Selasa (24/7).

Alexander Margaronis, analis UOB Kay Hian Sekuritas, memberikan target harga Rp7.600 untuk saham BMRI. Target harga ini mengindikasikan rasio harga terhadap nilai buku proyeksi 2019 sebesar 1,8 kali, lebih rendah dari nilai mean secara historis yang sebesar 2 kali.

Dirinya memutuskan mempertahankan rekomendasi beli, meskipun menurunkan target harga dari semula Rp8.850. Hal ini karena BMRI kini lebih bertanggung jawab pada kinerja pertumbuhannya dibandingkan dengan periode transisi pada 2016-2017.

Taye Shim, Kepala Riset Mirae Asset Sekuritas, juga mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga yang diturunkan, yakni dari Rp9.010 menjadi Rp7.640. Menurutnya, kinerja BMRI cukup sejalan dengan estimasi Mirae, tetapi target harga diturunkan mengantisipasi tekanan margin bunga bersih (NIM) pada semester kedua ini.

Beberapa risiko atas rekomendasi Mirae antara lain pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih rendah, tekanan kuat pada NIM, serta kualitas management aset yang lemah. NIM kuartal kedua turun menjadi 5,4% dan berpotensi makin tertekan karena kebijakan suku bunga Bank Indonesia.

Berbeda dibandingkan keduanya, DBS Vickers Securities Indonesia justru menaikkan target harga atas saham BMRI dari Rp9.400 menjadi Rp9.700 dengan rekomendasi beli. Sue Lin Lim, analis DBS Vickers, mengatakan pihaknya tetap memandang positif BMRI. Dia percaya BMRI sedang dalam pemulihan, meskipun lambat.

“Dalam pandangan kami, turunnya harga saham sejak Februari 2018 tidak sesuai dengan yang seharusnya,” katanya.

Tag : bank mandiri
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top