Musim Kekeringan Tekan Harga Perdagangan Kapas

Harga komoditas kapas melemah setelah sejumlah pertanian mengalami kekeringan dari gelombang panas sepanjang musim panas tahun ini, perkiraan permintaan dari industri yang menurun juga turut menekan harga.
Mutiara Nabila | 22 Juli 2018 21:13 WIB
Ilustrasi. - JIBI/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga komoditas kapas melemah setelah sejumlah pertanian mengalami kekeringan dari gelombang panas sepanjang musim panas tahun ini, perkiraan permintaan dari industri yang menurun juga turut menekan harga.

Pada penutupan perdagangan Jumat (20/7), harga kapas di perdagangan ICE Futures merosot tipis 0,47 poin atau 0,54% menjadi US$87,08 per pon. Selama tahun berjalan, harga komoditas tersebut terhitung masih mengalami kenaikan sebanyak 11,59%.

Produksi kapas di Texas, Amerika Serikat, salah satu wilayah di AS yang didominasi petani kapas, mulai tertekan oleh cuaca panas yang melanda AS. Karena dampaknya sangat tinggi pada hasil panen, para petani kapas di AS harus menentukan wilayah mana yang bisa diirigasi agar bisa tetap produksi meskipun dalam jumlah sedikit, dan meninggalkan wilayah lainnya yang tidak terkena pengairan.

“Produksi kapas mulai tertekan saat ini, tapi seharusnya suhu panas seperti saat ini sudah mereda pekan depan,” ujar Joel Widenor, Direktur Layanan Pertanian Organisasi Cuaca Komoditas di Maryland, AS, dikutip dari Bloomberg, Minggu (22/7/2018).

Menurut laporan resmi Karvy Commodities Broking, penurunan permintaan dari industri kapas dan adanya sejumlah wilayah di India dengan cuaca yang lebih baik untuk menanam kapas turut membuat harga kapas semakin tertekan.

Menurut laporan tersebut, likuidasi jangka panjang terdeteksi pada sejumlah kontrak beberapa bulan kedepan eiring dengan para pelaku pasar yang memangkas posisi jangka panjangnya sebelum masa pengiriman dimulai pada pekan depan.

Adapun, dari laporan tersebut dinyatakan bahwa penurunan harga kapas di ICE Futures juga tertekan oleh pelemahan prospek ekspor. Departemen Pertanian AS (USDA) merilis data penjualan ekspor kapasnya pada pekan yang berakhir 12 Juli anjlok dengan penjualan sejumlah 12.900 bal, turun 89% dari pekan sebelumnya.

Outlook Karvy menyatakan bahwa penurunan harga kapas global akan terus berlanjut karena akan ada periode panen di Gujarat. Musim penghujan di Gujarat meningkat dalam beberapa hari belakangan sehingga mendorong jumlah hasil panen yang sudah mengalami penurunan sepanjang musim ini.

Dilansir dari laporan resmi USDA memproyeksikan bahwa produksi kapas dunia akan anjlok 3,6% menjadi 117 juta bal karena penurunan hasil panen dari sejumlah negara. Sementara itu, USDA memproyeksikan bahwa permintaannya akan terus bertumbuh, tetapi dengan laju yang lebih lambat.

Selain itu, produksi dari petani kapas di AS sendiri juga diperkirakan akan merosot sekitar 19,5 juta bal, tertekan oleh banyaknya wilayah yang harus diabaikan karena kekeringan dan penurunan hasil panen. Sementara itu, produksi dari India yang diproyeksikan oleh USDA akan mengalami penurunan hingga 1 juta bal dari jumlah produksi tahun panen sebelumnya menjadi 27,5 juta bal.

Penurunan produksi juga terlihat di China, yang diperkirakan turun sekitar 2% atau 500.000 bal dari jumlah tahun sebelumnya menjadi 27 juta bal.

Sumber : Bloomberg

Tag : komoditas, kapas
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top