Aksi Buyback Berpotensi Stabilkan Harga Saham

Aksi pembelian saham kembali atau buyback dinilai menjadi salah satu upaya jitu dalam menstabilkan harga saham di tengah kondisi pasar yang bergejolak.
Hafiyyan, Novita S. Simamora | 11 Juli 2018 16:48 WIB
Mahasiswa berjalan di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/4/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Aksi pembelian saham kembali atau buyback dinilai menjadi salah satu upaya jitu dalam menstabilkan harga saham di tengah kondisi pasar yang bergejolak.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, ada 14 emiten yang merencanakan aksi pembelian saham kembali pada 2018. Perusahaan yang menyiapkan dana buyback terbesar ialah PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) senilai Rp3,3 triliun.

Di antara daftar 14 emiten tersebut, ada 4 perusahaan yang sudah merealisasikan buyback, yakni MIKA, ARNA, SRTG, dan TBIG. Dana buyback terbesar digelontorkan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) sejumlah Rp424,14 miliar.

Direktur Bumi Serpong Damai Hermawan Wijaya mengatakan, perusahaan akan melakukan pembelian kembali saham sebanyak-banyaknya 10% atau 1,92 miliar lembar saham yang beredar di pasar dengan alokasi dana Rp3,3 triliun.

“Aksi ini kami lakukan untuk meningkatkan nilai pemegang saham dan mengembalikan kelebihan arus kas,” tuturnya.

Di samping itu, aksi buyback memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi perseroan dalam mengelola modal. Dengan demikian struktur permodalan menjadi lebih efisien.

Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali menilai, aksi buyback membuat jumlah saham yang beredar di publik berkurang. Secara otomatis, tingkat pembagi menurun sehingga earning per share (EPS) meningkat.

Adanya peningkatan EPS turut memicu potensi kenaikan nilai pembagian dividen bagi investor. Sentimen ini dapat membuat saham emiten yang melakukan buyback menjadi menarik dan berpeluang mengalami kenaikan harga.

“Namun, tidak secara otomatis aksi buyback dapat menjamin kenaikan harga suatu saham,” tuturnya, Selasa (10/7/2018).

Frederik menuturkan, saham-saham emiten buyback yang menarik ialah jika harganya di pasar masih jauh dari pengumuman harga pelaksanaan. Momen tersebut menjadi kesempatan bagi pelaku pasar memburu saham itu.

Senada, Vice President Research Department PT Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya menyampaikan, buyback bukan bertujuan untuk meningkatkan harga saham emiten. Namun, aksi korporasi itu bertujuan menstabilkan harga saham suatu perusahaan.

“Buyback sifatnya untuk menjaga kestabilan harga. Kalaupun terjadi kenaikan, itu karena animo investor yang merasa manajemen emiten serius dalam memantau dan menstabilkan harga sahamnya,” imbuhnya.

Dari 14 emiten yang akan atau sudah melakukan buyback pada 2018, William berpendapat, 3 saham yang paling menarik ialah BSDE, ROTI, dan TOWR.

Tag : buyback, kinerja emiten
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top