IHSG Melemah Jelang Akhir Pekan, Ini Sentimen Penekannya

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah di zona merah pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (6/7/2018).
Renat Sofie Andriani | 06 Juli 2018 17:38 WIB
Karyawati berkomunikasi di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/7/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA— Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah di zona merah pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (6/7/2018).

IHSG ditutup melemah 0,77% atau 44,42 poin di level 5.694,91, setelah berhasil berakhir di zona hijau dua hari perdagangan berturut-turut sebelumnya.

Indeks tergelincir ke zona merah saat dibuka turun 0,11% atau 6,20 poin di level 5.733,13 pagi tadi. Pada perdagangan Kamis (5/7), IHSG masih mampu bertahan kuat dengan berakhir naik 0,10% atau 5,69 poin di level 5.739,33.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada kisaran level 5.694,91 – 5.743,36. Sebanyak 169 saham menguat, 198 saham melemah, dan 222 saham stagnan dari 589 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berdasarkan data Bloomberg, lima dari sembilan indeks sektoral IHSG menetap di zona merah dengan tekanan utama dari sektor finansial (-1,70%) dan konsumer (-1,42%. Sektor infrastruktur yang berakhir menguat 0,94% memimpin kenaikan di antara empat sektor lainnya.

Menurut tim analis Valbury Sekuritas, pergerakan IHSG pada perdagangan saham hari ini dibayangi sentimen eksternal, terutama data ekonomi AS dan rilis Fed minutes yang dapat berpengaruh bagi rupiah.

Risalah pertemuan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (FOMC minutes) pada 12-13 Juni yang dirilis Kamis (5/7/2018) waktu setempat itu menunjukkan, para pembuat kebijakan mungkin segera memberi sinyal bahwa siklus kenaikan suku bunga The Fed cukup maju.

Pejabat The Fed juga terkesan dengan kekuatan ekonomi AS serta memiliki kepercayaan diri dalam rencananya untuk terus menaikkan suku bunga, terlepas dari adanya kekhawatiran dengan apa yang dapat mendorong ekonomi keluar dari arah kenaikannya.

Di sisi lain, Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta melihat adanya profit taking dalam pergerakan IHSG hari ini, yang diindikasikan pola hanging man candle.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis 27 berakhir melemah 1,25% atau 6,17 poin di level 488,22, setelah dibuka turun 0,24% atau 1,19 poin di posisi 493,19 pada perdagangan Kamis (5/7).

Indeks saham lainnya di Asia Tenggara terpantau bergerak variatif sore ini, dengan indeks FTSE Straits Time Singapura (-1,99%), indeks SE Thailand (+0,89%), indeks FTSE Malay KLCI (-1,58%), dan indeks PSEi Filipina (-0,65%).

Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing rebound dengan berakhir menguat masing-masing sebesar 0,92% dan 1,12%, diikuti indeks Kospi Korea Selatan yang naik 0,68%.

Di China, indeks Shanghai Composite dan indeks CSI 300 juga membukukan rebound dengan masing-masing berakhir menguat 0,49% dan 0,68%. Adapun, indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,47%.

Secara keseluruhan, indeks MSCI Asia Pacific, selain Jepang, yang melemah di awal perdagangan berhasil berbalik menguat didorong rebound bursa saham China.

Kedua indeks saham utama China tersebut mampu melonjak bahkan setelah pemerintah Amerika Serikat (AS) mulai memberlakukan tarif pada lebih dari 800 barang dari China senilai US$34 miliar hari ini, keputusan yang dikhawatirkan dapat memicu perang dagang berskala penuh.

Penguatan indeks Shanghai dan CSI 300 sebagian terbantukan oleh persepsi bahwa langkah pengenaan tarif tersebut telah diperhitungkan.

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

(%)

HMSP

-2,39

BMRI

-3,45

BBRI

-2,41

BBCA

-1,41

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

BYAN

+7,01

TLKM

+0,78

ITMG

+5,70

UNTR

+0,98

Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top