PERSPEKTIF: Mengamankan Posisi Dana Tunai di Bursa

Investor disarankan untuk tetap menjaga posisi cash secara ideal, sehingga apabila terjadi penurunan lebih dalam dapat membeli saham-saham berfundamental baik dengan harga lebih murah. Melihat data historis, biasanya market mulai rebound pada SeptemberOktober, di mana investor bisa memanfaatkan momentum tersebut.
Wisnu Prambudi Wibowo, Analis FAC Sekuritas | 02 Juli 2018 12:57 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (29/6) berhasil menguat 131,918 poin (+2,33%) menjadi di level 5799,237. Pada kenaikan IHSG tersebut, mayoritas indeks sektoral mengalami kenaikan.

Kenaikan IHSG dipimpin oleh sektor basic industry (+3,17%), mining (+2,85%) dan finance (+2,60%). Adapun sektor yang menahan kenaikan IHSG yakni agriculture (-0,01%). Pada perdagangan tersebut terjadi capital inflow sebesar Rp690,92 miliar.

Faktor pendorong kenaikan IHSG pada perdagangan tersebut lebih dominan disebabkan dinaikkannya BI 7 Days Repo Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.

Sebenarnya kenaikan 50 basis poin yang dilakukan BI kemarin tersebut di atas ekspektasi perkiraan kami yang hanya sebesar 25 basis poin. BI sejak awal tahun sudah menaikkan interest rate sebanyak tiga kali, yang bertujuan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah akibat dari kenaikan interest rate The Fed yang lebih tinggi.

Sebagai catatan saja, sejak awal tahun interest rate The Fed sudah naik sebanyak dua kali menjadi di level 2%, padahal rencananya pada 2018 akan dinaikkan sampai empat kali. Artinya ada dua kali peluang interest rate The Fed akan dinaikkan pada tahun ini, sehingga hal tersebut memicu capital outflow dari Negara-negara emerging market termasuk Indonesia.

Apabila kita perhatikan sejak awal tahun hingga saat ini, di pasar saham Indonesia sudah terjadi capital outflow sebesar Rp48,66 triliun hingga Jumat (29/6), sehingga menyebabkan nilai tukar terus tertekan terhadap dolar AS dan membuat IHSG ikut tertekan.

Kami melihat kenaikan IHSG yang terjadi pada perdagangan akhir pekan lalu, sifatnya hanya sementara. Karena dinaikkannya interest rate akan memberatkan pertumbuhan ekonomi (GDP) kita, hal ini disebabkan biaya kredit menjadi lebih tinggi (mahal).

Akibatnya, sektor rill akan cenderung menahan ekspansi bisnis dengan meminjam uang melalui perbankan, karena disebabkan bunga kredit yang lebih mahal. Selain itu, kenaikan suku bunga acuan akan menyebabkan penyaluran kredit yang dilakukan perbankan akan berkurang dan menyebabkan net income dari perbankan mengalami penurunan dan akan direspons negative oleh investor, sehingga menyebabkan penurunan harga sahamnya.

Di sisi lain juga banyak masyarakat lebih memilih menyimpan uangnya ke dalam deposito dibandingkan dengan diputar ke dalam ekonomi secara rill yang notabene memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan dengan menyimpannya di deposito. Hal ini disebabkan naiknya imbal hasil yang disebabkan dari kenaikan interest tersebut.

Pada kenaikan interest rate BI akhir pekan lalu, BI juga mengeluarkan kebijakan pelonggaran loan to value (LTV) untuk sektor perumahan, yang diharapkan mampu ikut mendorong pertumbuhan ekonomi lebih baik.

Kami melihat apabila tidak dilakukan dengan pengawasan yang ketat dapat meningkatkan non-performing loan (NPL) di perbankan, sehingga akan menimbulkan risiko tersendiri dikemudian harinya.

Kinerja IHSG

Apabila kita perhatikan IHSG sejak awal tahun mengalami penurunan sebesar 8,75% menjadi di level 5.799,237 (29/6). Adapun, indeks sektoral yang mampu tumbuh hanya sektor mining (+20,77%) dan basic industry (+13,65%).

Sementara itu penurunan terdalam terjadi pada indeks sektor konsumer (-15,87%), miscellaneous industry (-15,48%), infrastructure (-12,34%), property (-12,22%), finance (-11,59%), agriculture (-9,79%), dan trade (-4,97%).

Pendorong kenaikan sektor mining disebabkan membaiknya harga pertambangan seperti batu bara, nikel, dan tembaga, sehingga harga saham-sahamnya ikut mengalami kenaikan. Sebut saja di batu bara ada PTBA, ITMG, dan HRUM.

Di sektor basic industry, faktor pendorong kenaikan utamanya ditopang subsektor pulp & paper, yakni saham INKP dan TKIM. Pasalnya harga pulp & paper global mengalami kenaikan sehingga mendorong perolehan net income bagi perusahaan dan direspons positif oleh investor.

Selain kedua sektor tersebut, sektor yang lain mengalami penurunan. Ketika IHSG mengalami penurunan tentu disebabkan oleh turunnya saham-saham berkapitalisasi besar secara bersama-samaan. konsumer dipimpin oleh GGRM, HMSP, UNVR, ICBP, dan INDF.

Infrastructure dipimpin oleh TLKM dan finance dipimpin oleh BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Sementara itu, miscellaneous industry dipimpin oleh ASII dan agriculture dipimpin oleh AALI. Sejauh ini, agriculture didominasi oleh perusahaan kelapa sawit sehingga ketika CPO turun akan terkena dampaknya.

Adapun, properti dipimpin oleh BSDE, PWON dan beberapa saham kontruksi BUMN, seperti WSKT dan PTPP. Trade dipimpin oleh AKRA dan SCMA. Sehingga ketika leader dari masing-masing sektornya mengalami penurunan, biasanya sektor tersebut akan mengalami penurunan juga.

Sektor-sektor yang turun tersebut disebabkan karena memang banyak saham-saham big cap yang sebelumnya dikuasai asing kemudian dilakukan penjualan sehingga terjadilah penurunan dan menekan pergerakan market secara berkelanjutan. Penjualan terbanyak dilakukan pada sektor consumer, infrastructure dan finance, karena memang di sektor ini banyak yang dikuasai asing saham-saham big cap.

Faktor pendorong penurunan yang terjadi pada IHSG didominasi oleh sentimen eksternal yang dominan negatif, seperti kenaikan interest rate The Fed dan kekhwatiran trade war antara AS-China.

Terkait dengan kenaikan interest rate The Fed, kita ketahui bersama The Fed sejak awal tahun sudah menaikkan interest rate sebanyak dua kali, sehingga saat ini berada di 2%.

Kenaikan interest rate The Fed tahun ini berpeluang sampai empat kali, sehingga ada peluang dua kali lagi untuk dinaikkan. Hal itu membuat capital outflow terus terjadi sejak awal dan menyebabkan pelemahan Rupiah.

Soal kekhawatiran perang dagang, sejauh ini belum ada titik temu antara kedua belah pihak. Bahkan, kekhawatiran perang dagang semakin meluas, saat AS mengancam akan mengenakan bea masuk senilai 20% bagi mobil-mobil Uni Eropa yang diekspor ke AS.

Kami melihat kekhawatiran terjadinya perang dagang ini akan berlangsung lama dan berkorelasi negatif bagi pasar modal. Kami melihat dua faktor ini masih akan menjadi momok negatif dari sisi ekternal.

Meski demikian, secara prospek, menurut kami IHSG masih baik. Sebagaimana kita tahu bahwa pasar modal Indonesia merupakan pasar modal teruntung di dunia. Hanya saja secara major trend IHSG memang masih mengalami down trend.

Bagi investor kami sarankan untuk tetap menjaga posisi cash-nya secara ideal, sehingga apabila terjadi penurunan lebih dalam dapat membeli saham-saham berfundamental baik dengan harga lebih murah. Melihat data historis, biasanya market mulai rebound pada September—Oktober, di mana investor bisa memanfaatkan momentum tersebut.

*) Artikel ini dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (2/7/2018)

Tag : rekomendasi saham
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top