BNBR Selesaikan Restrukturisasi Utang Rp10,48 Triliun Tahun Ini

Bakrie & Brothers (BNBR) berupaya menyelesaikan restrukturisasi utang sebesar Rp10,48 triliun kepada tiga kreditur besar pada tahun ini.
Hafiyyan | 26 Juni 2018 19:23 WIB
Direktur Utama BNBR Bobby Gafur Umar (tengah) dan Direktur Keuangan BNBR A. Amri Aswono (kanan) memberikan penjelasan perihal rencana restrukturisasi utang perseroan, Selasa (26/6/2018). (Hafiyyan - Bisnis).

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) berupaya menyelesaikan restrukturisasi utang sebesar Rp10,48 triliun kepada tiga kreditur besar pada tahun ini.

Direktur Utama Bakrie & Brothers, Bobby Gafur Umar menyampaikan pada tahun ini perusahaan akan menyelesaikan seluruh restrukturisasi utang pada 2018. Sebelumnya pada 2017, perseroan sudah merampungkan restrukturisasi senilai Rp1,04 triliun dan 2016 sebesar Rp987 miliar.

Total restrukturisai utang pada 2018 ialah Rp10,48 triliun. Tiga kreditur terbesarnya ialah Mitsubishi Corporation RtM Japan Ltd., senilai Rp2,9 triliun, Glendore International AG Rp5,78 triliun, dan Eurofa Capital Investment Rp1,68 triliun.

“Tahun ini kami fokus melakukan restruktusisasi melalui konversi utang menjadi saham,” ujarnya dalam acara paparan public insidentil, Selasa (26/6/2018).

Menurutnya, BNBR menawarkan kepada kreditur untuk menjadi pemegang saham perseroan, karena tidak mampu lagi membayar. Nantinya, pemegang saham mendapat keuntungan seiring dengan pertumbuhan BNBR ke depan, sehingga kepemilikan saham mereka bisa di monetisasi.

Bobby menuturkan, para kreditur menyetujui ide yang ditawarkan manajemen. Mereka juga melihat BNBR berpotensi untuk bertumbuh seiring dengan rencana ekspansi di bisnis baru dan existing.

Sebagai langkah realisasi awal, pada 26 april 2018 BNBR sudah menandatangani perjanjian restrukturisasi dengan Mitsubishi. Proses restrukturisasi dilakukan dengan cara pengalihan utang perseroan dari Mitsubishi kepada Fountain City Investment Ltd.

Penyelesaian hutang kepada Fountain City dilakukan dengan cara penyerahan aset perusahaan berupa saham di PT Bumi Resources Tbk. (BUMI). Aset tersebut sebelumnya dijaminkan dalam fasilitas kredit dengan Mitsubishi.

Setelah itu, perseroan akan menerbitkan Obligasi Wajib Konversi (OWK) dan menerbitkan saham baru kepada Fountain City. “Harga pelaksanaan OWK nantinya menunggu keterbukaan informasi. Biasanya pakai minimal harga rata-rata 25 hari perdagangan,” tuturnya.

Adapun, penyelesaian restrukturisasi utang kepada Eurofa ditargetkan selesai pada Agustus 2018. Caranya dengan pengalihan dan konversi utang ke saham BNBR. Terakhir, negosiasi restrukturisasi utang menjadi saham antara BNBR dengan Glencore masih dalam proses. Ditargetkan proses ini selesai pada Desember 2018.

Bobby menyampaikan, ada sejumlah manfaat restrukturisasi utang bagi BNBR dan investor. Bagi perseroan, ekuitas dapat menjadi positif, utang berkurang, rasio keuangan membaik, dan memiliki kemampuan ekspansi lini usaha baru.

Adapun bagi investor, restrukturisasi dapat membuat saham BNBR menjadi likuid karena secara fundamental kinerja perusahaan membaik. Dari sisi keuangan, setelah seluruh restrukturisasi rampung, total liabilitas BNBR merosot menjadi Rp3,29 triliun dari posisi per Maret 2018 sebesar Rp13,23 triliun. Ekuitas pun berbalik positif ke Rp3,29 triliun dari sebelumnya defisiensi modal atau ekuitas negatif Rp6,41 triliun.

Tag : grup bakrie
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top