Proyeksi Pasar Obligasi: Tekanan Masih Berlanjut Pekan Depan

Pasar obligasi pada pekan depan kemungkinan masih mengalami tekanan, melanjutkan yang terjadi sepanjang pekan ini seiring masih melemahnya kinerja nilai tukar rupiah.
Emanuel B. Caesario | 22 Juni 2018 19:38 WIB
Obligasi Ritel Indonesia - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Pasar obligasi pada pekan depan kemungkinan masih mengalami tekanan, melanjutkan yang terjadi sepanjang pekan ini seiring masih melemahnya kinerja nilai tukar rupiah.

Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mira Asset Sekuritas, mengatakan bahwa yield Surat Utang Negara (SUN) seri acuan tenor 10 tahun pada Jumat (22/6/2018) sudah meningkat ke level 7,49%. Padahal, sebelum lebaran pada Jumat (8/6/2018) yield SUN 10 tahun masih di level 7,25%.

Menurutnya, meningkatnya yield ini sebagian besar didorong oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akibat isu perang dagang. Isu ini berpotensi akan memberikan dampak negatif bagi pasar surat berharga negara (SBN) untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

“Dalam jangka pendek, transmisi kenaikan yield SBN dipengaruhi melalui depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar, sementara dalam jangka panjang transmisi kenaikan yield SBN lebih dipengaruhi oleh kenaikan yield US Treasury,” katanya hari ini, Jumat (22/6/2018).

Menurut data Asian Bonds Online, posisi yield US Treasury 10 tahun pada Jumat (22/6/2018) pukul 17:29 waktu Manila berada di posisi 2,897. Posisi ini meninngkat 49,1 basis poin dibandingkan akhir tahun 2017.

Sedangkan posisi yield SUN 10 tahun yang sebesar 7,494 sudah lebih tinggi 117,5 basis poin dibandingkan akhir 2017.

Dhian menilai, yield SUN 10 tahun pekan depan akan bergerarak berfluktuasi di rentang 7,30% hingga 7,52% dengan kecenderungan mengalami kenaikan yield. Dhian menaikkan proyeksi yield dari semula 7,20% - 7,40% didorong oleh kemungkinan masih hangatnya isu perang dagang yang bisa mendorong depresiasi rupiah.

“Sentimen negatif bagi pasar obligasi peda minggu depan juga didorong oleh rilis beberapa indikator ekonomi AS yang diperkirakan akan kembali menunjukkan pemulihan sehingga mendorong kenaikan yield US Treasury,” katanya.

Di sisi lain, dari dalam negeri pada pekan depan juga akan ada rapat dewan gubernur Bank Indonesia. Dirinya memproyeksikan Bank Indonesia akan kembali menaikkan suku bunga BI 7 Days Repo Rate ke level 5%.

Meski begitu, menurutnya dampak positif kebijakan tersebut terhadap nilai tukar rupiah akan terbatas karena sudah diantisipasi pasar pascaRDG tambahan akhir Mei lalu.

“Dengan demikian, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS saya rasa bergerak fluktuatif pada kisaran Rp13.990 – Rp14.120 dengan kecenderungan mengalami depresiasi,” katanya.

Tag : Obligasi
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top