Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bumi Teknokultura Unggul (BTEK) Ekspansi Bisnis Cokelat Bubuk

PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk. (BTEK) melalui cucu usahanya Golden Harvest Cocoa Indonesia (GHCI) akan mulai memproduksi cokelat bubuk atau cocoa powder pada Oktober 2018.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 06 Juni 2018  |  22:07 WIB
logo - btek.co.id
logo - btek.co.id

Bisnis.com, JAKARTA-PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk. (BTEK) melalui cucu usahanya Golden Harvest Cocoa Indonesia (GHCI) akan mulai memproduksi cokelat bubuk atau cocoa powder pada Oktober 2018.

Direktur Utama Bumi Teknokultura Unggul Anne Patricia Sutanto menyampaikan, melalui Golden Harvest, perseroan baru menghasilkan dua produk olahan kakao, yakni cocoa cake dan cocoa butter. Pada Oktober 2018, perusahaan akan membuat produk baru berupa cocoa powder, selain cocoa cake.

"Bulan September 2018 kami mulai trial line production cocoa powder. Direncanakan Oktober sudah bisa produksi," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (5/6/2018).

Diperkirakan kapasitas produksi cocoa powder berkisar 20.000-30.000 per tahun. Untuk ekspansi lini bisnis baru dan modal kerja lainnya pada 2018, BTEK mengalokasikan capital expenditure (capex) senilai US$15 juta.

Sumber pendanaan berasal dari hasil rights issue pada 2016 dan ekuitas perusahaan. Per Maret 2018, ekuitas BTEK mencapai Rp2 triliun, naik dari kuartal I/2017 sebesar Rp1,49 triliun.

Sebagai informasi, pada kuartal III/2016 BTEK melakukan rights issue dengan perolehan dana Rp4,65 triliun. Mayoritas dana tersebut digunakan untuk mengakuisisi Golden Harvest Pte. Ltd. (GHPL), induk usaha GHCI.

Per Desember 2017, pabrik pengolahan kakao perseroan memiliki kapasitas produksi 120.000 ton per tahun, tetapi utilisasinya baru sebesar 40%. Diharapkan utilisasi dapat mencapai 110.000 ton per tahun atau 90% pada 2019.

"Selain menambah lini cocoa powder, kami juga akan meningkatkan utilisasi produksi cocoa butter dan cocoa cake sampai 90% atau 110.000 ton per tahun," tuturnya.

Menurut Anne, belanja modal untuk peningkatan utilisasi hingga 90% bergantung kepada pergerakan harga kakao global. Dengan asumsi harga kakao di level US$2.500 per ton, investasi yang dibutuhkan untuk mencapai kapasitas 110.000 ton per tahun berkisar US$40 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kinerja emiten bumi teknokultura unggul
Editor : Pamuji Tri Nastiti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top