PERDAGANGAN SESI I: Mapolda Riau Diserang, IHSG & Rupiah Tambah Lesu

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun lebih dari 1% pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (16/5/2018), sejalan dengan berlanjutnya depresiasi nilai tukar rupiah.
Renat Sofie Andriani | 16 Mei 2018 12:52 WIB
Pengunjung mengambil gambar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia Jakarta, Senin (22/1). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) turun lebih dari 1% pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (16/5/2018), sejalan dengan berlanjutnya depresiasi nilai tukar rupiah.

IHSG melorot 1,34% atau 78,11 poin ke level 5.760 pada akhir sesi I, setelah dibuka dengan pelemahan 0,98% atau 57,24 poin di level 5.780,88. Adapun pada perdagangan Selasa (15/5), IHSG berakhir merosot 1,83% atau 109,04 poin di level 5.838,12.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.743,33 – 5.821,08. Sebanyak 120 saham menguat, 214 saham melemah, dan 247 saham stagnan dari 581 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Seluruh sembilan indeks sektoral IHSG menetap di zona merah dengan tekanan utama sektor aneka industri (-2,42%), konsumer (-2,22%), dan finansial (-1,72%).

Sementara itu, nilai tukar rupiah lanjut melemah 71 poin atau 0,51% ke Rp14.108 per dolar AS pada pukul 11.25 WIB, setelah ditutup melemah 64 poin atau 0,46% di Rp14.037 pada perdagangan Selasa (15/5/2018).

Dilansir dari Bloomberg, IHSG dan rupiah kompak melemah untuk perdagangan hari ketiga berturut-turut seiring dengan aksi jual oleh investor asing menyusul lonjakan pada imbal hasil obligasi AS.

Gelombang baru penghindaran risiko menyebar di kawasan Asia saat investor bergulat dengan kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar AS di tengah kekhawatiran akan isu perdagangan, pertumbuhan, dan kondisi geopolitik yang berkelanjutan.

Faktor tersebut menambah tekanan pada Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuannya pada hari Kamis (17/5/2018) dalam upaya untuk menangkal aksi jual yang telah membebani rupiah dan IHSG.

Sementara itu dari dalam negeri, pagi initerjadi  serangan terhadap markas Kepolisian Daerah Riau .

Turut menjadi sentimen negatif adalah defisit perdagangan pada April 2018, terbesar dalam empat tahun. Neraca perdagangan pada April 2018 tercatat mengalami defisit US$1,63 miliar didorong oleh kenaikan impor barang konsumsi dan migas.

“Angka defisit perdagangan Indonesia kemarin [Selasa, 15/5/2018] jauh lebih lemah dari ekspektasi dan rupiah bereaksi terhadapnya,” ujar Bharat Shettigar, head of Asia ex-China corporate credit research di Standard Chartered Bank.

“Ini memberi tekanan pada bank sentral [BI] untuk menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan [yang berakhir] besok," tambahnya, dikutip Bloomberg.

Bersama IHSG, mayoritas indeks saham di Asia Tenggara memerah siang ini, dengan indeks FTSE Straits Time Singapura (-0,11%), indeks SE Thailand (-0,63%), dan indeks PSEi Filipina (-1,13%). Adapun indeks FTSE Malay KLCI naik 0,34%.

Di kawasan Asia lainnya, indeks Kospi Korea Selatan naik tipis 0,08% dan indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,27%. Adapun indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing turun 0,28% dan 0,30%.

Sementara itu kalangan analis meyakini serangan di Mapolda Riau tidak memengaruhi pasar pada perdagangan hari ini.

“Tidak (akan memengaruhi pasar saham dan rupiah). Sewajarnya, “ kata William Surya Wijaya, Vice President Research Department PT Indosurya Bersinar Sekuritas kepada Bisnis.com, Rabu (16/5/2018).

Hal senada juga dikemukakan Research analyst PT Narada Asset Management Kiswoyo Adi Joe.

“Cuma efek sesaat aja (serangan teroris dan dampaknya ke pasar. Sudah mulai kebal pasarnya,” kata Kiswoyo kepada Bisnis.com, Rabu (16/5/2018).

Tag : IHSG
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top