Jababeka (KIJA) Incar Marketing Sales Rp2,25 Triliun

PT Jababeka Tbk. membidik nilai pemasaran atau marketing sales Rp2,25 triliun dari tiga lokasi bisnis land development dan properti pada 2018.
M. Nurhadi Pratomo | 16 Mei 2018 21:10 WIB
Jababeka - skyscrapercity.com

Bisnis.com, JAKARTA— PT Jababeka Tbk. membidik nilai pemasaran atau marketing sales Rp2,25 triliun dari tiga lokasi bisnis land development dan properti pada 2018.

Sekretaris Perusahaan Jababeka Muljadi Suganda mengungkapkan target marketing sales yang dipasang berasal dari tiga lokasi yakni Cikarang Rp1,5 triliun, Kendal Rp500 miliar, dan Tanjung Langsung Rp250 miliar. Dengan demikian, pihaknya berharap dapat mengantongi Rp2,25 triliun pada tahun ini.

“Penopang pendapatan dari tiga wilayah itu,” ujarnya saat ditemui usai paparan publik, di Jakarta, Rabu (16/5).

Muljadi menjelaskan bahwa saat ini perseroan memiliki persediaan tanah atau land bank hingga 3.701 hektare (ha) yang tersebar di tiga wilayah tersebut. Secara detail, luas land bank di tiap wilayah yakni Tanjung Lesung 1.537 ha, Cikaran 1228 ha, dan Kendal 582 ha.

Sampai dengan kuartal I/2018, sambungnya, emiten berkode saham KIJA itu telah mengucurkan Rp65 miliar untuk akuisisi tanah. Artinya, perseroan masih memiliki sisa dana hingga Rp335 miliar dari total anggaran Rp400 miliar untuk keperluan akuisisi tanah pada 2018.

Terkait lini bisnis infrastruktur, pihaknya mengaku agak kesulitan memprediksi kontribusi pendapatan dari sektor tersebut. Pasalnya, status reserve shutdown pembangkit listrik PT Bekasi Power (BP) yang berdampak kepada penurunan penjualan energi listrik kepada PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

“Dengan adanya status ini nunggu berikutnya dari PLN apakah akan steady atau continue. Akan tetapi, kompensasi sudah dibayarkan setiap bulannya oleh PLN dan sesuai kontrak,” jelasnya.

Dia mengatakan kondisi itu menjadi penyebab turunnya kontribusi pendapatan dari sektor infrastruktur pada kuartal I/2018. Tercatat, sumbangsih lini bisnis itu tergerus menjadi 47% atau setara Rp258,7 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal I/2018, KIJA mengantongi laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk Rp15,06 miliar. Jumlah itu merosot dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp54,67 miliar.

Manajemen menyebut terdapat kerugian selisih kurs hingga Rp70 miliar pada kuartal I/2018. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun lalu karena perusahaan membukukan laba selisih kurs Rp22,2 miliar.

Kendati demikian, pendapatan dari pilar bisnis properti tumbuh 7% secara tahunan pada kuartal I/2018. Penjualan perumahan dan komersial di Cikarang, Jawa Barat menjadi pendongkrak kinerja keuangan sepanjang periode tersebut.

Frankie Wijoyo Prasetio, Head of Equity Trading Phintraco Sekuritas Medan menilai pertumbuhan profitabilitas KIJA relatif stagnan dalam sembilan tahun terakhir. Menurutnya, perseroan belum membukukan kinerja yang cukup baik pada awal tahun ini.

Dengan kondisi tersebut, Frankie menilai price to earning ratio (PER) sangat tinggi dibandingkan dengan perusahaan sektor usaha sejenis. Hal itu akibat laba bersih KIJA yang belum mencatatkan pertumbuhan.

“Menerbitkan obligasi Dolar pada 2017 dengan tren nilai tukar saat ini bisa menjadi sentimen yang kurang baik untuk KIJA,” paparnya.

Tag : jababeka
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top