Ekspektasi Konsumsi Jelang Musim Panas Naik, Harga Batu Bara Reli

Reli penguatan harga batu bara berlanjut pada akhir perdagangan Senin (14/5/2018), di tengah meningkatnya ekspektasi konsumsi komoditas ini menjelang musim panas.
Renat Sofie Andriani | 15 Mei 2018 07:53 WIB
Pekerja berjalan di atas timbunan batu bara, di Asam-asam, Kalimantan Selatan. - Bloomberg/Dadang Tri

Bisnis.com, JAKARTA – Reli penguatan harga batu bara berlanjut pada akhir perdagangan Senin (14/5/2018), di tengah meningkatnya ekspektasi konsumsi komoditas ini menjelang musim panas.

Pada perdagangan Senin, harga batu bara untuk kontrak Juni 2018, kontrak teraktif di bursa komoditas Rotterdam, menguat 2,20% atau 2 poin dan berakhir di posisi US$93/metrik ton.

Harga batu bara kontrak Juni 2018 telah menguat untuk perdagangan hari kelima berturut-turut dengan kenaikan tercatat sebesar 7,71%. Pada perdagangan Jumat (11/5), harga batu bara kontrak Juni 2018 berakhir menguat 1,11% atau 1 poin di posisi 91.

Di China, harga batu bara thermal untuk pengiriman September di Zhengzhou Commodity Exchange berakhir naik 1,6% di 629,8 yuan/ton. Adapun kontrak teraktif membukukan kenaikan 3% pekan lalu sekaligus kenaikan mingguan keempat berturut-turut, rentetan terpanjang sejak Januari.

Menurut analis Guotai Junan Futures Jin Tao, ekspektasi konsumsi batu bara yang lebih tinggi menjelang musim panas telah mendorong harga.

“Sejumlah data termasuk stok batu bara dan penggunaan harian oleh pembangkit listrik juga mendukung sentimen positif,” tambah Jin Tao, seperti dikutip Bloomberg.

Jumlah persediaan batu bara pada enam pembangkit listrik utama di China telah menurun hingga 19 hari pasokan pada 11 Mei, menurut China Coal Resource.

Sejalan dengan batu hitam, harga minyak mentah menguat saat para pelaku pasar menilai meningkatnya ketegangan di Timur Tengah memberi tekanan terhadap cadangan minyak dunia.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Juni ditutup menguat 0,4% atau 0,26 poin di level US$ 70,96 per barel di New York Mercantile Exchange.

Adapun minyak Brent untuk pengiriman Juli menguat 1,11 poin dan ditutup pada level US$78,23 di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London. Brent menyentuh level US$78 untuk pertama kalinya sejak akhir tahun 2014.

Lebih dari 50 warga Palestina tewas dalam protes atas peresmian kedutaan AS di Yerusalem, menyoroti ketegangan di wilayah tersebut kurang dari sepekan setelah Presiden Donald Trump menerapkan kembali sanksi terhadap Iran, produsen minyak mentah terbesar ketiga OPEC.

“Fokusnya hanya masih pada situasi di Iran dan Timur Tengah,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC, seperti dikutip Bloomberg. “Kadang-kadang, ketegangan tinggi di Timur Tengah dan terkadang mereda. Saat ini, ketegangan sudah sangat tinggi.”

Minyak mentah AS telah meningkat 3,5% bulan ini setelah Arab Saudi mengatakan kepada OPEC telah mengurangi produksi minyak mentah ke level terendah sejak dimulainya upaya gabungan untuk mengurangi kelebihan pasokan global.

Sementara itu, keputusan Trump untuk mundur dari perjanjian nuklir Iran 2015 dan memberlakukan kembali sanksi diperkirakan akan menurunkan ekspor minyak mentah dan kondensat Iran sebesar 500.000 barel per hari pada 2019, menurut BMI Research.

Pergerakan harga batu bara kontrak Juni 2018 di bursa Rotterdam

Tanggal                                    

US$/MT

14 Mei

93,00

(+2,20%)

11 Mei             

91,00                               

(+1,11%0

10 Mei

90,00

(+1,35%)

9 Mei

88,80

(+1,37%)

8 Mei

87,60

(+1,68%)

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Bloomberg

Tag : harga batu bara
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top