Pendapatan HMSP Hanya Naik Tipis, Laba Terkoreksi

Emiten rokok PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk., (HMSP) membukukan kenaikan pendapatan 2,48% pada kuartal I/2018 seiring dengan peningkatan pangsa pasar menjadi 33,2%. Namun, laba bersih perusahaan terkoreksi 7,87%.
Hafiyyan | 27 April 2018 14:09 WIB
Mantan Presiden Direktur PT HM Sampoerna Tbk. Paul Janelle (kiri) dan Presiden Direktur yang baru, Mindaugas Trumpaitis, saat jumpa pers Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Sampoerna di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (18/11/2016). RUPSLB yang digelar Sampoerna menyetujui Mindaugas Trumpaitis secara resmi menggantikan Paul Janelle sebagai Presiden Direktur Sampoerna. - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten rokok PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk., (HMSP) membukukan kenaikan pendapatan 2,48% pada kuartal I/2018 seiring dengan peningkatan pangsa pasar menjadi 33,2%. Namun, laba bersih perusahaan terkoreksi 7,87%.

Dalam laporan keuangan kuartal I/2018, manajemen HMSP mengungkapkan pendapatan perusahaan mencapai Rp23,14 triliun. Angka itu meningkat 2,48% year on year (yoy) dari realisasi Januari-Maret 2017 senilai Rp22,57 triliun.

Perolehan laba bersih atau laba yang diatribuskan kepada pemilik entitas induk pada kuartal I/2018 mencapai Rp3,03 triliun, terkoreksi 7,87% yoy dari sebelumnya Rp3,29 triliun.

Penjualan perusahaan ditopang pasar lokal. Pasar ekspor hanya berkontribusi Rp92,93 miliar, turun dari kuartal I/2017 sebesar Rp120,36 miliar.

Di pasar domestik, produk utama yang mendorong pendapatan perusahaan ialah Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar Rp15,92 triliun. Selanjutnya, Sigaret Kretek Tangan (SKT) berkontribusi Rp4,55 triliun, Sigaret Putih Mesin (SPM) Rp2,46 triliun, dan pendapatan lainnya Rp15,97 miliar.

Presiden Direktur Hanjaya Mandala Sampoerna, Mindaugas Trumpaitis menyampaikan pada kuartal I/2018 pangsa pasar perusahaan naik menjadi 33,2% dari kuartal I/2017 sebesar 33%. Volume penjualan pada Januari-Maret 2018 mencapai 23 miliar batang rokok.

"Hal tersebut didukung sejumlah merek seperti Marlboro Filter Black dan Dji Sam Soe Magnum Mild," tuturnya, Jumat (27/4/2018).

Dia mengungkapkan terkoreksinya laba tak lepas dari faktor belum bergairahnya konsumsi masyarakat. Di samping itu, tarif cukai rokok kembali meningkat pada 2018, sehingga mendongkrak harga jual.

Pada kuartal I/2018, penjualan industri rokok di Indonesia turun 2,3 yoy karena penurunan belanja masyarakat. Diperkirakan pada tahun ini penurunan industri berkisar 1%--3% yoy. "Kami masih percaca dengan kinerja perusahaan pada 2018 akan positif meski keadaan industri cukup menantang," paparnya.

Sementara itu, beban pokok penjualan HMSP per Maret 2018 meningkat menjadi Rp17,64 triliun dari sebelumnya Rp16,77 triliun. Hal ini membuat laba kotor perusahaan menurun menuju Rp5,49 triliun dari kuartal I/2017 senilai Rp5,81 triliun.

Laba sebelum pajak penghasilan menurun menjadi Rp3,97 triliun dari sebelumnya Rp4,35 triliun. Laba periode berjalan pun menyusut menuju Rp3,03triliun dari pencapaian kuartal I/2018 sebesar Rp3,29 triliun. Laba per saham dasar dan dilusian terkoreksi menjadi Rp26 pada kuartal I/2018 dari Rp28 pada kuartal I/2017.

Arus kas bersih perusahaan yang diperoleh dari aktivitas operasi meningkat menjadi Rp13,17 triliun dari sebelumnya Rp12,65 triliun. Adapun, posisi kas dan setara kas pada akhir periode ialah Rp21,53 triliun, naik dari triwulan pertama 2017 senilai Rp19,95 triliun.

Liabilitas HMSP meningkat menjadi Rp15,14 triliun pada kuartal I/2018 dibandingkan sebelumnya Rp9,03 triliun. Liabilitas jangka pendek bertambah menuju Rp12,64 triliun dari kuartal I/2018 sebesar Rp6,48 triliun.

Ekuitas perseroan pada 2017 mencapai Rp34,11 triliun, turun tipis dari sebelumnya Rp34,17 triliun. Total aset HMSP pun meningkat menjadi Rp43,14 triliun dari 2016 sebesar Rp42,51 triliun.

 

Tag : hm sampoerna, hmsp, kinerja emiten
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top