Dolar AS Perkasa, Emas Mengalami Goncangan

Emas mengalami tekanan seiring dengan naiknya dolar AS ke level tertinggi dalam 3 bulan yang dipicu oleh melonjaknya imbal hasil treasury AS.
Eva Rianti | 24 April 2018 21:22 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com JAKARTA – Emas mengalami tekanan seiring dengan naiknya dolar AS ke level tertinggi dalam 3 bulan yang dipicu oleh melonjaknya imbal hasil treasury AS.

“Aksi jual emas terutama dikarenakan kekuatan dalam indeks dolar AS,” kata Naeem Aslam, analis pasar utama di TF Global Markets di London, dilansir dari Bloomberg, Selasa (24/4/2018).

Dolar yang lebih kuat akan menekan emas karena menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya sehingga daya tarik bullion menjadi melemah.

Greenback berhasil mencapai level tertinggi dalam 3 bulan pada penutupan perdagangan Senin (23/4) di level 90,919 karena imbal hasil treasury AS bertenor 10 tahun naik mendekati level psikologis 3%, sebuah tanda yang berpotensi membuka pintu bagi dolar AS menuju level yang lebih tinggi.

Menurut World Gold Council (WGC), dalam beberapa tahun terakhir, investor menilai, dalam jangka pendek pergerakan emas dipengaruhi oleh kenaikan tingkat suku bunga The Federal Reserve dan ekspektasi normalisasi kebijakan.

Namun, para analis WGC berpendapat bahwa korealasi hubungan antara emas dan kenaikan suku bunga memudar dan bahwa dolar AS menjadi indikator terkuat sebagai petunjuk pergerakan harga bullion.

“Di samping itu, kita juga mengalami de-eskalasi ketegangan geopolitik antara AS dan Korea Utara,” lanjut Aslam.

Pihak Korea Utara dikabarkan menangguhkan uji coba nuklir dan rudal sebelum pertemuan yang direncanakan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-In dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada akhir Mei atau awal Juni mendatang.

Biasanya, emas akan mendapatkan tenaga dari terjadinya ketegangan geopolitik lantaran investor akan beralih ke aset aman (safe haven) dibandingkan dengan aset berisiko. Ketika ketegangan itu mereda, emas cenderung mengalami tekanan.

Asia Trade Point Futures (ATPF) dalam publikasi risetnya, Selasa (24/4) menuturkan bahwa meredanya tensi ketegangan perang antara AS dan China juga turut menggerus harga emas.

Pasalnya, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dikabarkan telah mengisyaratkan genjatan senjata dan akan berkunjung ke China untuk membahas isu tersebut.

WE Commodities Research dalam publikasi risetnya, Selasa (24/4) memproyeksikan, secara teknikal bahwa harga emas akan melanjutkan bearish jika menembus level US$1.329 per troy ounce.

“Menyentuh level tersebut akan menekan harga ke level US$1.322 per troy ounce, melanjutkan pelemahan ke level US$1.315 per troy ounce, hingga US$1.311 per troy ounce.

Namun, jika harga berhasil ke atas level US$1.329 per troy ounce, maka bullion akan bergerak menguat ke level US$1.336 per troy ounce dan melanjutkan penguatan ke level US$1.343 per troy ounce hingga US$1.347 per troy ounce.

Kendati demikian, analis logam mulia di Mitsubishi Jonathan Butler menuturkan bahwa dalam jangka panjang kemungkinan emas mendapatkan kekuatan di tengah ketegangan geopolitik dan mata uang AS yang terjebak dalam tren penurunan jangka panjang karena bank sentral global mulai menaikkan suku bunganya.

“Alasan reli imbal hasil treasury AS ialah suku bunga AS yang diperkirakan akan naik karena meningkatnya inflasi. Jika inflasi meningkat, emas memberikan lindung nilai,” kata Butler.

Harga emas kontrak teraktif Juni 2018 naik 3,10 poin atau 0,23% menjadi US$1.327,10 per troy ounce pada perdagangan Selasa (24/4) pukul 15.30 WIB setelah sebelumnya mengalami pelemahan cukup dalam dengan ditutup di level US$1.324 per troy ounce, terlemah sejak 20 Maret 2018. Secara year-to-date (ytd), harga tumbuh 1,39%.

Adapun, pada waktu yang sama, harga emas spot naik 0,28 poin atau 0,02% menuju US$1.325,11 per troy ounce, rebound dari pelemahan 3 sesi beruntun. Sepanjang tahun, harga naik 1,71%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dolar as

Sumber : Bloomberg
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top