Emiten Baru Sky Energy (JSKY) Unggulkan Strategi Ekspor

Emiten anyar PT Sky Energy Indonesia Tbk., (JSKY) berencana memacu pendapatan dari eskpor sekitar 50% pada 2018 sebagai salah satu upaya melakukan natural hedging.
Hafiyyan | 28 Maret 2018 20:46 WIB
Direktur Utama PT Sky Energy Indonesia Tbk., (JSKY) Jackson Tandiono memberikan sambutan saat pencacatan saham perdana perseroan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (28/3/2018). JSKY menjadi emiten keempat yang IPO pada 2018. - Hafiyyan

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten anyar PT Sky Energy Indonesia Tbk., (JSKY) berencana memacu pendapatan dari eskpor sekitar 50% pada 2018 sebagai salah satu upaya melakukan natural hedging.

Sky Energy Indonesia merupakan penyediajasa modul surya atau solar pannel dan sel surya atau solar cell. Pada 2016, kapasitas produksi solar panel perseroan mencapai 100 MW, sedangkan solar cell sebesar 50 MW.

Direktur Utama Sky Energy Indonesia Jackson Tandiono menyampaikan, pada 2017 sekitar 30% penjualan perseroan ditopang pasar ekspor dari Amerika Serikat Kanada, dan Eropa. Manajemen akan meningkatkan kontribusi penjualan ke luar negeri di kisaran 50% pada tahun ini sebagai upaya melakukan natural hedging.

"Karena kita ada bahan baku yang impor, tetapi penjualan lebih banyak ke dalam negeri. Kita akan naikan ekspor hingga 50% sebagai natural hedging," ujarnya setelah pencatatan saham perdana JSKY di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (28/3/2018).

Dalam penawaran umum perdana, perusahaan melepas 203,26 juta lembar saham dengan harga Rp400. Volume itu setara dengan 20,002% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan. Dana perolehan dari IPO ialah Rp81,30 miliar.

Menurut Jackson, dana hasil IPO sekitar Rp80 miliar digunakan untuk pembelian mesin baru. Pasalnya, perseroan berencana menambah 1 pabrik dengan kapasitas produksi solar panel 100 MW dan solar cell sebesar 50 MW.

Total investasi yang dialokasikan untuk pengembangan pabrik baru mencapai Rp200 miliar. Kebutuhan dana pembelian lahan seluas 5 hektare (ha) dan pembangunan berasal dari pinjaman perbankan dan kas internal.

"Jadi nanti setelah pabrik kedua rampung pada tahun depan, kapasitas produksi kita naik 2 kali lipat," ujarnya.

Menurutnya, pabrik exisiting perseroan baru memproduksi solar panel dengan ukuran kecil sampai dengan sedang. Adanya investasi pabrik baru ditujuan untuk pembuatan modul ukuran besar sesusai dengan permintaan pasar ekspor.

Dari dalam negeri, perusahaan melakukan ekspansi ke sejumlah proyek seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya, pabrik industri, Penerangan Jalan Umum (PJU), dan lain-lain. Ke depannya, JSKY akan menyasar segmen residensial.

Pada 2017, sambung Jakcson, perusahaan membukukan pendapatan sekitar Rp400 miliar dan laba bersih Rp20 miliar. Perolehan pendapatan dan laba ditargetkan meningkat menuju Rp500 miliar dan Rp30 miliar pada 2018.

General Manager Finance & Accounting Sky Energy Indonesia Christoper Liawan menyampaikan, perusahaan menargetkan pendapatan Rp539 miliar pada 2018, dan Rp627 miliar pada 2019.

Per September 2017, perseroan membukukan pendapatan senilai Rp314,92 miliar. Penjualan bersih didominasi produk panel surya senilai Rp144,52 miliar, baterai sejumlah Rp103,82 miliar, dan solar system Rp44,16 miliar. Sisa pemasukan berasal dari penjualan inverter Rp13,61 miliar, LED Rp1,23 miliar, dan produk pendukung Rp7,58 miliar.

"Kami perkirakan memang pertumbuhan penjualan 2018 lebih tinggi seiring dengan utulisasi pabrik exiting yang mencapai kapasitas penuh," paparnya

Tag : sky energy
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top