Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China Luncurkan Kontrak Minyak Mentah, Harga US$69,70 per Barel

China meluncurkan kontrak minyak mentah yang pertama kalinya karena pembeli minyak terbesar dunia berusaha untuk menggunakan kekuatan yang lebih besar atas penetapan harga dan tantangan di Amerika Serikat dan Eropa.
Eva Rianti
Eva Rianti - Bisnis.com 26 Maret 2018  |  16:26 WIB
Ilustrasi. - JIBI
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – China meluncurkan kontrak minyak mentah yang pertama kalinya karena pembeli minyak terbesar dunia berusaha untuk menggunakan kekuatan yang lebih besar atas penetapan harga dan tantangan di Amerika Serikat dan Eropa.

Dilansir dari Bloomberg, kontrak minyak mentah China mulai diperdagangkan pada Senin (26/3/3018) pukul 09.01 waktu setempat di Shanghai International Energy Exhcange (INE).

Futures berjangka berdenominasi yuan yang telah ditunggu-tunggu di bursa INE tersebut mulai diperdagangkan pada level 440,20 yuan (US$69,70) per barel.

Jam perdagangan akan dilakukan pada 09.00-11.30 dan 13.30-15.00 waktu setempat serta pada malam hari pukul 21.00-03.00 waktu setempat.

Peluncuran futures yang telah direncanakan sejak 25 tahun yang lalu tersebut menjadi penting bagi China. Pasalnya, perdagangan berjangka akan merebut sebagian kendali atas penetapan harga dari tolak ukur internasional yang selama ini berdenominasi dolar AS.

Seperti diketahui, minyak mentah merupakan komoditas paling aktif diperdagangkan dengan 2 tolak ukur utama, yaitu West Texas Intermediate (WTI) yang diperdagangkan di New York Merchantile Exchange dan minyak mentah Brent yang diperdagangkan di ICE Futures Europe di London dengan berdenominasi dolar AS.

Denominasi kontrak minyak dalam yuan akan mempromosikan penggunaan mata uang China dalam perdagangan global, salah satu tujuan jangka panjang negara tersebut.

Di samping itu, China menjadi memiliki patokan yang mencerminkan tingkat minyak yang sebagian besar dikonsumsi oleh kilang lokal dan berbeda dari penetapan kontrak-kontrak barat.

Analis menilai, kemungkinan yuan menantang dominasi dolar dalam pasar minyak memang tidak dapat dicapai dalam waktu dekat karena membayar minyak dalam dolar merupakan praktik yang sudah mengakar.

Kepala strategi ekonomi makro di Dubai-based lender Emirates NBD PJSC Shady Shaher mengatakan dalam jangka panjang ada kemungkinan bahwa dalam pasar minyak akan ada transaksi menggunakan yuan karena China adalah pasar utama.

“Itu masuk akal. Namun memakan waktu bertahun-tahun,” papar Shaher.

“China tidak memiliki pengaruh di pasar minyak yang diperlukan untuk melakukan kudeta semacam itu,” kata kolumnis Bloomberg Gadfly David Fickling.

Fickling menuturkan, di sisi lain, membayar dalam yuan untuk minyak bisa menjadi bagian dari ‘one belt, one road’ ’ Presiden Xi Jinping, sebuah inisiatif untuk mengembangkan hubungan di seluruh Eurasia, termasuk Timur Tengah.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak

Sumber : Bloomberg

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top