Respons FOMC Meeting, Sejumlah Analis Yakin Gejolak Hanya Sementara

Pasar obligasi Indonesia kemungkinan hanya akan bergejolak singkat pascapengumuman keputusan The Fed dalam FOMC meeting bulan ini dengan ekspektasi adanya kepastian dari otoritas tersebut terhadap kebijakan suku bunga sepanjang tahun ini.
Emanuel B. Caesario | 21 Maret 2018 21:25 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Pasar obligasi Indonesia kemungkinan hanya akan bergejolak singkat pascapengumuman keputusan The Fed dalam FOMC meeting bulan ini dengan ekspektasi adanya kepastian dari otoritas tersebut terhadap kebijakan suku bunga sepanjang tahun ini.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa dinamika pasar obligasi dengan tingkat volatilitas yang tinggi selama ini disebabkan karena ketidakpastian yang dibangun oleh wacana The Fed menaikkan suku bunganya tahun ini.

Pasar belum mendapat kepastian tentang seberapa agresif The Fed akan menaikkan suku bunganya tahun ini. Namun, pasar berupaya mencari titik keseimbangan dengan sejumlah besar investor asing memindahkan investasinya ke Paman Sam.

Yield Us Treasury terus meningkat sejak awal tahun dan memicu yield surat utang negara-negara lainnya pun turut meningkat. Indonesia yang semula mampu bertahan karena didukung sentimen positif peningkatan peringkat oleh Fitch Ratings pada akhir Desember 2017, akhirnya ikut melemah.

Hingga Rabu (21/3/2018) siang, yield US Treasury tenor 10 tahun sudah di posisi 2,896%, meningkat 49,1 bps year to date/ytd. Di periode yang sama, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun juga sudah meningkat 41,6 bps ytd ke level 6,735%.

Ramdhan menilai, upaya penyesuaian di pasar surat utang saat ini sudah mencapai titik yang pas dengan proyeksi kenaikan suku bunga the Fed satu kali. Namun, pasar masih menunggu kepastian rencana the Fed tentang berapa kali suku bunga akan dinaikan tahun ini.

“Harga yang sekarang sudah price in terhadap kemungkinan the Fed naikkan suku bunga 1 kali. Mungkin akan ada gejolak di 3-4 hari setelah pengumuman the Fed, tetapi akan berbalik lagi ke level sekarang,” katanya..

Ramdhan mengatakan, bila ada pernyataan The Fed yang memberi kepastian bagi pasar, peluang kenaikan justru terbuka. Pasar menunggu kepastian tersebut agar lebih mudah menyusun strategi investasi yang sesuai.

Anup Kumar, Senior Fixed Income Analyst Bank Maybank Indonesia, sependapat bahwa harga SUN saat ini sudah sesuai dengan potensi penaikan saku bunga The Fed satu kali. Namun, selain menunggu statement the Fed apakah akan menaikan suku bunga lebih dari 3 kali atau tidak, pasar juga menunggu sikap the Fed terhadap perang dagang yang dipicu Presiden Trump.

“Perang dagang yang dikeluarkan Trump sekarang pengaruhnya terhadap inflasi mereka akan seperti apa, itu yang ditunggu pasar. SUN sudah price in, tetapi kalau laju kenaikan Fed Fund Rate lebih cepat, akan ada potensi untuk koreksi lagi,” katanya.

Anup mengatakan, potensi bagi yield US Treasury 10 tahun untuk naik hingga melampaui level 3% masih sangat terbuka. Bila demikian, spread antara US Treasury dan SUN akan kian menyempit dan berpotensi mendorong arus dana keluar dari Indonesia sebab peringkat surat utang Amerika Serikat jauh lebih tinggi dari Indonesia.

Anup berpandangan yield SUN 10 tahun akan relatif stabil di level 6,7% hingga 6,8%, menimbang inflasi dalam negeri sejauh ini masih terjaga. Dengan demikian, imbal hasil riil yang merupakan selisih antara yield dan inflasi juga masih cukup tinggi.

Hanya saja, ada sejumlah perkembangan baru dari dalam negeri yang berpotensi menjadi sentimen yang kurang baik bagi perkembangan pasar obligasi tahun ini.

Di antaranya, rencana pemerintah menaikkan biaya subsidi energi yang mana telah direspon negatif oleh lembaga pemerintah, lalu defisit neraca perdagangan 3 bulan berturut-turut, serta semakin tipisnya kemungkinan Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga acuan.

Dirinya menilai, ada potensi volatilitas yang lebih tinggi lagi di pasar obligasi pada kuartal kedua mendatang. Faktornya antara lain karena suhu politik yang memanas, serta impor dan inflasi yang kemungkinan akan meningkat jelang lebaran, di samping juga wacana perang dagang dari Amerika Serikat. Namun, potensi untuk melakukan pembelian tetap terbuka.

“Volatilitas memang selalu ada, tetapi kita lihat kayaknya 6,7% - 6,8% cukup wajar. Pandangan kita juga masih netral terhadap pasar, tidak terlalu bearish tetapi juga tidak bullish. Dibandingkan Filipina, kita masih lebih baik. Maybank sendiri melihat kita harusnya buy Indonesia dan   Filipina,” katanya.

Filipina merupakan negara dengan peringkat utang yang mirip dengan Indonesia. Namun, sepanjang bulan ini saja, yield surat uang Filipina sudah turun 66,5 bps ke level 6,069%. Secara year to date, yield Filipina masih mencatatkan peningkatan 37 bps.

“Potensi return di kita selalu ada, tetapi yang ditunggu adalah kapan waktunya. Kita lagi tunggu, strategi apa lagi yang bisa membuat pasar bergairah lagi. Sekarang ini, kalau mau harga naik juga bingung kenapa, mau harga turun juga belum ada alasan yang kuat. Sehingga pandangan ktia netral,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top