Harga Karet Terseret Ketidakpastian Politik di AS

Harga karet turun lebih dari satu persen pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (16/3/2018), akibat terbebani penguatan mata uang yen yang berpotensi mengurangi permintaan.
Renat Sofie Andriani | 16 Maret 2018 15:58 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet turun lebih dari satu persen pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (16/3/2018), akibat terbebani penguatan mata uang yen yang berpotensi mengurangi permintaan.

Harga karet untuk pengiriman Agustus 2018 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom), ditutup merosot 1,74% atau 3,40 poin di level 191,80 yen per kilogram (kg).

Sebelumnya, harga karet dibuka di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,05% atau 0,1 poin di level 195,30 yen per kg, setelah pada perdagangan Kamis (15/3) berakhir menguat 0,26% atau 0,5 poin di posisi 195,2o.

Menurut analis di broker Sunward Trading, Hideshi Matsunaga, penguatan yen terhadap dolar AS serta meningkatnya cadangan karet di China telah memberikan tekanan terhadap harga komoditas ini.

Cadangan karet China yang dimonitor oleh Shanghai Futures Exchange tercatat naik 0,2% atau 437,896 ton pekan lalu. Adapun Asosiasi Perdagangan karet Jepang mencatat persediaan karet meningkat 2,2% ke level 15.206 metrik ton.

Sementara itu, nilai tukar yen terpantau menguat 0,55% atau 0,58 poin ke posisi 105,76 per dolar AS pada pukul 14.42 WIB, setelah berakhir terdepresiasi tipis 0,01% di posisi 106,34 pada perdagangan Kamis (15/3).

Kinerja yen sebagai aset safe haven didorong kabar rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menyingkirkan penasehat keamanan nasionalnya, H.R. McMaster.

Kabar terbaru tersebut memicu meluasnya kekhawatiran tentang masa depan kebijakan asing pemerintahan Trump.

Laporan bahwa Penasehat Khusus Robert Mueller mengeluarkan surat panggilan untuk Trump Organization menambah kekhawatiran tentang ketidakpastian politik di AS.

Seperti diketahui, penguatan nilai tukar yen Jepang terhadap dolar AS membuat harga komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang ini menjadi relatif lebih mahal bagi para pembeli luar negeri. Dampaknya, permintaan akan komoditas ini berpotensi menurun.

“Fokus investor saat ini ada pada keputusan eksportir karet apakah akan memperpanjang kebijakan pembatasan ekspor sebelum berakhir pada akhir Maret,” tambah Matsunaga, seperti dikutip Bloomberg.

Tiga negara eksportir karet terbesar, Thailand, Indonesia, dan Malaysia, akan mengadakan pertemuan setelah kebijakan pembatasan ekspor berakhir pada 21 Maret mendatang untuk memutuskan apakah kebijakan tersebut akan dilanjutkan atau tidak.

Sebelumnya, Gubernur Otoritas Karet Thailand, Titus Suksaard mengatakan pembatasan ekspor karet telah berjalan sesuai rencana.

Pergerakan Harga Karet Kontrak Agustus 2018 di TOCOM

Tanggal

Harga (Yen/Kg)

Perubahan

16/3/2018

191,80

-1,74%

15/3/2018

195,20

+0,26%

14/3/2018

194,70

+1,25%

13/3/2018

192,30

-0,21%

12/3/2018

192,70

+1,53%

Sumber: Bloomberg

 

Tag : harga karet
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top