Kekhawatiran Politik di AS dan Jepang Buat Bursa Asia Defensif

Bursa Asia bergerak di posisi defensif pada perdagangan pagi ini, Jumat (16/3/2018), seiring dengan kekhawatiran investor atas penyelidikan di Amerika Serikat (AS) terhadap Trump Organization.
Renat Sofie Andriani | 16 Maret 2018 08:51 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Asia bergerak di posisi defensif pada perdagangan pagi ini, Jumat (16/3/2018), seiring dengan kekhawatiran investor atas penyelidikan di Amerika Serikat (AS) terhadap Trump Organization.

Bursa Asia, beserta pasar ekuitas global, sebelumnya sudah diliputi kekhawatiran bahwa pengenaan tarif impor oleh AS dapat merugikan ekonomi global serta memicu perang dagang.

Indeks MSCI Asia Pasifik, selain Jepang, tergelincir 0,2% pada awal perdagangan. Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,3%.

Pada perdagangan Kamis (15/3), indeks S&P 500 di bursa Wall Street berakhir turun 0,08%, menjadikannya penurunan empat hari beruntun pertama sepanjang tahun ini.

Indeks saham acuan AS tersebut melemah setelah New York Times melaporkan bahwa Penasehat Khusus AS Robert Mueller telah mengeluarkan surat panggilan sidang untuk dokumen-dokumen yang berkaitan dengan bisnis Presiden Donald Trump.

Hal ini menambah ketidakpastian politik di negeri adidaya tersebut, menyusul hengkangnya dua pejabat penting Gedung Putih, Menteri Luar Negeri Rex Tillerson dan penasehat ekonomi utama Gary Cohn, dari jajaran pemerintahan Trump.

Trump juga diketahui berupaya menerapkan tarif hingga senilai US$60 miliar terhadap impor China, sehingga memperkuat kekhawatiran investor pemerintah AS semakin condong ke kebijakan proteksionisme.

“Tampaknya bagi Trump, hanya kebijakan 'America First' yang tersisa untuk meningkatkan popularitasnya dan untuk terpilih kembali,” kata Hiroko Iwaki, pakar strategi senior di Mizuho Securities.

“Sulit untuk mengharapkan ketidakpastian politik akan segera hilang. Ini akan mendukung obligasi,” tambahnya, seperti dikutip Reuters.

Imbal hasil obligasi AS mencapai posisi 2,826% di Asia setelah menyentuh kisaran level terendahnya dalam dua pekan di 2,797%.

Ketidakpastian politik tidak hanya terlihat di AS. Di Jepang, Perdana Menteri Shinzo Abe mendapat tekanan atas kecurigaan menutup-nutupi kebenaran soal penjualan tanah yang kontroversial.

Di pasar mata uang, meningkatnya aksi penghindaran terhadap aset berisiko mendorong dolar AS melemah terhadap yen yang berlaku sebagai safe haven di tengah ketidakpastian politik. Nilai tukar yen dilaporkan mencapai posisi 106,22 pada awal perdagangan di Asia hari ini.

Tag : Donald Trump, bursa asia
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top