Pemerintah Tuntaskan Emisi Global Bond Semester I

Pemerintah berencana menuntaskan seluruh penerbitan surat berharga negara dalam valuta asing untuk pembiayaan APBN 2018 pada semester pertama tahun ini untuk menghindari sentimen global di semester kedua yang berpotensi mengoreksi pasar.
Emanuel B. Caesario | 14 Januari 2018 19:02 WIB
Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Robert Pakpahan (kedua kiri) didampingi Direktur BEI Samsul Hidayat (kiri), Deputi Pengawas Pasar Modal II OJK Fakhri Hilmi (kedua kanan), dan Direktur Surat Utang Negara Loto Srinaita Ginting membuka perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan, sekaligus membuka masa penawaran atau launching Obligasi Ritel Indonesia (ORI) seri 014 di Jakarta, Jumat (29/9). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah berencana menuntaskan seluruh penerbitan surat berharga negara dalam valuta asing untuk pembiayaan APBN 2018 pada semester pertama tahun ini untuk menghindari sentimen global di semester kedua yang berpotensi mengoreksi pasar.

Loto Srinaita Ginting, Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kementerian Keuangan, mengatakan bahwa instrumen surat utang valas pemerintah yang pertama sudah diterbitkan pada Desember 2017 lalu dalam rangka prefunding APBN 2018.

Instrumen tersebut berdenominasi US Dollar senilai total US$4 miliar dan diterbitkan dengan format SEC-Registered Standalone. Surat utang tersebut terdiri atas tiga seri, yakni Seri RI0123 tenor 5 tahun US$1,0 miliar, RI0128 tenor 10 tahun US$1,25 miliar, dan RI0148 tenor 30 tahun US$1,75 miliar.

Loto mengatakan, pemerintah akan menerbitkan tiga surat utang global lagi pada tahun ini, yakni sukuk global, dual currency global bond dan Samurai Bond. Seluruhnya akan diterbitkan di semester pertama tahun ini.

Dirinya enggan mengungkapkan rencana persis jadwal penerbitan ketiganya dan nilai emisi masing-masing. Pemerintah masih akan menghitung besaran penerbitan ketiga instrumen tersebut sesuai kebutuhan pemerintah.

“Dari sekitar Rp846 triliun [penerbitan kotor surat berharga negara 2018], kebutuhan valas kita sekitar 17%-20%, tetapi kita bisa sesuaikan. Kalau demand domestik meningkat, bisa kita kurangi [emisi obligasi global], tetapi kalau demand domestik tidak terlalu strong, bisa kita tingkatkan misalnya ke angka 25%,” ungkapnya akhir pekan lalu.

Menurutnya, alasan pemerintah menerbitkan seluruh instrumen surat utang global ini pada semester pertama adalah untuk sedini mungkin memanfaatkan era imbal hasil murah dan sentimen positif fundamental ekonomi Indonesia yang tengah baik.

Loto mengatakan, pasar investasi global memandang ada peluang besar peningkatan suku bunga the Fed tahun ini hingga 3 kali karena pertumbuhan ekonomi global relatif membaik. Amerika Serikat juga menjalankan program pengurangan stimulusnya.

Tag : global bond
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top