Permintaan Global Turun, Harga Batu Bara Akhiri Reli

Reli harga batu bara berakhir pada perdagangan Selasa (19/12/2017), seiring dengan laporan penurunan permintaan global untuk komoditas ini.
Renat Sofie Andriani | 20 Desember 2017 08:06 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Reli harga batu bara berakhir pada perdagangan Selasa (19/12/2017), seiring dengan laporan penurunan permintaan global untuk komoditas ini.

Pada perdagangan Selasa, harga batu bara untuk kontrak Januari 2018, kontrak teraktif di bursa komoditas Rotterdam, ditutup melemah 0,94% atau 0,90 poin di US$94,90/metrik ton. Pelemahan harga batu bara kontrak Januari 2018 pada perdagangan kemarin mengakhiri reli yang mampu dibukukan tiga hari berturut-turut sebelumnya.

Dilansir Bloomberg, permintaan global untuk batu bara turun 1,9% pada tahun 2016. Laporan International Energy Agency (IEA) Coal 2017 menunjukkan jumlah penggunaan batu bara mencapai 5,36 miliar ton tahun lalu, penurunan konsumsi untuk tahun kedua berturut-turut.

IEA memproyeksikan bahwa pada tahun 2022 permintaan batu bara global akan mencapai 5,53 miliar ton. Ini berarti total permintaan akan mengalami stagnasi untuk lebih dari satu dekade.

Di sisi lain, pergerakan harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) mampu berakhir menguat pada akhir perdagangan Selasa (19/12) dan lanjut menguat pagi ini, menyusul data industri yang menunjukkan kontraksi stok minyak mentah AS yang lebih besar daripada perkiraan.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari berakhir di level US$57,56 pada perdagangan Selasa di New York Mercantile Exchange.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Februari ditutup naik 39 sen di US$63,80 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Harga minyak AS memperpanjang kenaikannya setelah American Petroleum Institute (API) dikabarkan telah melaporkan penurunan persediaan minyak dalam negeri sebesar 5,2 juta barel pekan lalu.

Angka tersebut melampaui perkiraan penurunan sebesar 3,15 juta barel dalam survei Bloomberg. Jika penurunan tersebut dikonfirmasi oleh data pemerintah yang akan dirilis hari ini, maka akan memperburuk kondisi pasokan yang mengetat akibat penutupan pipa minyak di Laut Utara.

“Ini melanjutkan tren penurunan yang lebih besar daripada konsensus dan lebih besar daripada penurunan musim ini. Tentunya ini merupakan pertanda baik,” kata Ashley Petersen, analis minyak di Stratas Advisors.

“Ini adalah indikasi kuat bahwa permintaan masih ada dan produksi tidak membanjiri persediaan,” tambahnya, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (20/12/2017).

Harga minyak telah bertahan di atas US$55 per barel di New York sejak pertengahan November setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sejumlah negara non-OPEC seperti Rusia sepakat membatasi produksi untuk mengikis kelebihan suplai.

 

Pergerakan harga batu bara kontrak Januari 2018 di bursa Rotterdam

Tanggal                                    

US$/MT

19 Desember

94,90

(-0,94%)

18 Desember

95,80

(+0,58%)

15 Desember

95,25

(+0,16%)

14 Desember

95,10

(+0,58%)

13 Desember

94,55

(-1,05%)

 

 

Sumber: Bloomberg

 

 

 

 

 

 

Tag : harga batu bara
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top