Volatilitas Meningkat Jelang Rapat FOMC, Rupiah Ditutup Melemah

Pergerakan nilai tukar rupiah terdepresiasi pada akhir perdagangan hari ini, Senin (11/12/2017), justru saat mayoritas mata uang Asia terapresiasi.
Renat Sofie Andriani | 11 Desember 2017 17:25 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah terdepresiasi pada akhir perdagangan hari ini, Senin (11/12/2017), justru saat mayoritas mata uang Asia terapresiasi.

Rupiah ditutup melemah 0,01% atau 2 poin di Rp13.552 per dolar AS. Pagi tadi, rupiah dibuka dengan penguatan 0,11% atau 15 poin di posisi 13.535, setelah pada perdagangan Jumat (8/12), berakhir rebound 0,03% atau 4 poin di posisi 13.550.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak fluktuatif di kisaran Rp13.532 – Rp13.553 per dolar AS.

Dilansir Bloomberg, ukuran volatilitas tersirat rupiah naik ke level tertinggi bulan ini menjelang pertemuan kebijakan bank sentral di Amerika Serikat dan Indonesia.

Volatilitas tersirat dalam satu bulan untuk dolar AS terhadap rupiah naik menjadi 4,58, tertinggi sejak 29 November.

Investor memprediksikan kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve pada pertemuan kebijakan (FOMC) yang dijadwalkan berakhir Rabu (13/12) serta menantikan petunjuk laju pengetatan tahun depan.

Di sisi lain, menurut Brown Brothers Harriman & Co., Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di 4,25% pada pertemuan kebijakan 13-14 Desember.

Berbanding terbalik dengan rupiah, mayoritas mata uang Asia terapresiasi dengan peso Filipina memimpin penguatan sebesar 0,40%, berdasarkan data Bloomberg. Penguatan peso diikuti ringgit Malaysia dan dolar Singapura yang masing-masing menguat 0,27% dan 0,17%.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau bergerak di zona merah dengan pelemahan 0,16% atau 0,147 poin ke 93,754 pada pukul 16.40 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka naik tipis 0,01% atau 0,010 poin di level 93,911, setelah pada Jumat (8/12) berakhir menguat 0,11% di posisi 93,901.

Penguatan dolar AS sebelumnya mendapat dukungan dari data Non-Farm Payroll (NFP) yang dirilis pada Jumat (8/11). Namun, pergerakannya kemudian melemah lantaran data upah yang lebih rendah dari ekspektasi pasar.

Berdasarkan laporan dari Departemen Tenaga Kerja AS, pertumbuhan tenaga kerja AS atau NFP periode November 2017 telah tumbuh mencapai 228.000 jiwa.

Angka tersebut lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 198.000 jiwa. Kondisi itu diperkirakan akan memicu prospek kenaikan suku bunga The Fed yang akan diumumkan pada 13 Desember mendatang.

Namun upah rata-rata perjam tercatat meningkat 0,2%, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 0,3% sehingga analis mengungkapkan bahwa data tersebut mengecewakan.

Para analis mengatakan, data upah tersebut bisa membebani laju kenaikan suku bunga pada tahun depan karena menjadi cerminan inflasi yang rendah.

 

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top