Data Ekonomi China Kusam, Harga Logam Kompak Melemah

Harga logam industri kompak mengalami pelemahan seiring dengan melambatnya data perekonomian China, terutama di sisi produksi industri dan penjualan ritel.
Hafiyyan | 15 November 2017 14:35 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Harga logam industri kompak mengalami pelemahan seiring dengan melambatnya data perekonomian China, terutama di sisi produksi industri dan penjualan ritel.

Seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (15/11/2017), Head of base and precious metals trading BMO Capital Markets Tai Wong menyampaikan, data ekonomi China melemah lebih dalam dibandingkan ekspektasi. Sentimen ini membuat spekulan mengambil posisi shorts.

Produksi industri China pada Oktober 2017 hanya meningkat 6,2% year on year (yoy). Hasil ini turun dibandingkan median proyeksi analis sebesar 6,3% yoy dan pencapaian pada September 2017 senilai 6,6% yoy.

Dalam periode yang sama, penjualan ritel hanya tumbuh 10% yoy. Padahal estimasi analis mencapai 10,5% dan realisasi pada September 2017 sebesar 10,3%. Data penjualan eceran China pada Oktober 2017 menunjukkan level terendah dalam setahun terakhir.

Pelemahan dolar AS juga tak cukup mengangkat harga logam industri. Pada penutupan perdagangan Selasa (14/11/2017), indeks dolar turun 0,66 poin atau 0,70% menuju 93,827, atau level terendah sejak 25 Oktober 2017 di posisi 93,711.

Sementara itu, pada penutupan perdagangan Selasa (14/11/2017), harga aluminium di London Metal Exchange (LME) turun 26 poin atau 1,23% menjadi US$2.082 per ton. Sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd), harga tumbuh 22,98%.

Harga tembaga dalam waktu yang sama merosot 136 poin atau 1,97% menuju US$6.759 per ton. Secara ytd, harga menguat 22,10%.

Harga seng  turun 62 poin atau 1,93% menjadi US$3.151 per ton. Secara ytd harga tumbuh 22,32%.

Harga nikel melesu paling dalam, yakni 710 poin atau 5,68% menuju US$11.780 per ton. Sepanjang tahun berjalan harga naik 17,56%.

Adapun logam timbal turun 53 poin atau 2,10% menjadi US$2.470 per ton. Secara ytd harga tumbuh 22,49%.

Logam timah turun 30 poin atau 0,15% menuju US$19.470 per ton. Harga masih tekoreksi 7,83% secara ytd.

Tag : komoditas, logam industri
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top