Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Terus Melaju, WTI Menuju US$55 per Barel?

Harga minyak terus melaju seiring dengan ketegangan konflik di Kurdistan dan Penurunan rig pengeboran AS yang mendorong keberhasilan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) menciptakan keseimbangan pasar.
Eva Rianti
Eva Rianti - Bisnis.com 24 Oktober 2017  |  08:29 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak terus melaju seiring dengan ketegangan konflik di Kurdistan dan Penurunan rig pengeboran AS yang mendorong keberhasilan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) menciptakan keseimbangan pasar.

Pada perdagangan Selasa (24/10) pukul 07.00 WIB harga Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember 2017 naik 0,01 poin atau 0,02% menuju US$51,89 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, harga minyak Brent untuk pengiriman Desember 2017 melemah 0,38 poin atau 0,66% menjadi US$57,37 per barel di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London.

Sebelumnya, minyak WTI mengakhiri sesi perdangangan pada level US$51,90 per barel dan minyak Brent berakhir pada US$57,37 per barel.

Kepala penelitian energi di CFRA Research New York Stewart Glcikman berpendapat bahwa harga minyak mengalami volatilitas di tengah gangguan pasokan di Irak yang menyokong ekspor oleh produsen terbesar kedua OPEC itu. Selain itu, tingkat pengeboran AS yang berkurang turut memicu kondisi tersebut.

Sementara itu, survei Reuters pada Senin (23/10) menyatakan, pelaku pasar menunggu data dari American Petroleum Institute (API) dan Departemen Energy Information Administration (EIA) pada akhir pekan sebagai petunjuk mengenai langkah keseimbangan antara permintaan dan pasokan.

Ekspor minyak mentah dari Kurdistan Irak ke pelabuhan Ceyhan di Turki mencapai 288.000 barel per hari pada Senin siang, naik dari hari sebelumnya sebesar 255.000 barel per hari. Biasanya pipa tersebut mengangkut 600.000 barel per hari.

Di samping itu, Baker Hughes mengatakan jumlah rig pengeboran AS telah berkurang 3 buah menjadi 736 buah dalam sepekan hingga 20 Oktober, atau tingkat terendah sejak Juni 2017.

Kondisi ini berpotensi mendukung kesuksesan OPEC dalam melakukan pemangkasan produksi yang berimbas pada terciptanya keseimbangan pasar.

Kepala komoditas penelitian di Landesbank Baden-Wuerttemberg menuturkan, potensi OPEC selanjutnya adalah meningkatnya permintaan minyak global dan pengurangan rig pengeboran AS yang menyokong penurunan pasokan minyak mentah. Faktor-faktor tersebut mendorong harga minyak naik dalam jangka pendek.

“Saya tidak akan terkejut melihat WTI naik menjadi US$55 per barel dan minyak Brent menjadi US$60 per barel sebelum awal November,” kata Wuerttemberg seperti dilansir Reuters, Selasa (24/10).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak brent wti
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top