Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Batu Bara Tertekan Hari Ketiga

Pelemahan harga batu bara berlanjut hingga akhir perdagangan hari ketiga berturut-turut, Senin (23/10/2017), di tengah laporan peningkatan produksi batu bara di China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 24 Oktober 2017  |  07:39 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan harga batu bara berlanjut hingga akhir perdagangan hari ketiga berturut-turut, Senin (23/10/2017), di tengah laporan peningkatan produksi batu bara di China.

Pada perdagangan Senin, harga batu bara untuk kontrak Januari 2018, kontrak teraktif di bursa komoditas Rotterdam, ditutup melemah 0,67% atau 0,60 poin di US$89,50/metrik ton.

Harga batu bara kontrak Januari 2018 melanjutkan pelemahannya pada perdagangan hari ketiga berturut-turut sejak ditutup merosot 1,95% di posisi 90,55 pada Kamis (19/10).

Dilansir Bloomberg, produksi batu bara di China yang mencapai level tertinggi sejak Juni. Penambang batu bara di China didorong untuk meningkatkan pasokan sebelum musim dingin.

Berdasarkan data Biro Statistik China, produksi batu bara pada bulan September meningkat 7,6% dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya ke level 298,12 juta ton. Adapun sejak awal tahun hingga September jumlah produksi mencapai 2,6 miliar ton, meningkat 5,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berbanding terbalik dengan batu hitam, harga minyak mentah AS naik mendekati level US$52 per barel ditopang keyakinan investor bahwa negara-negara OPEC tetap patuh pada kesepakatan pemangkasan produksi.

Pada perdagangan Senin, harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Desember ditutup menguat 0,1% atau 0,06 poin di level US$51,90 per barel di New York Mercantile Exchange.

OPEC dan negara-negara sekutunya mencapai tingkat kepatuhan tertinggi terhadap pembatasan produksi. Pada saat yang sama, stok minyak komersial yang disimpan oleh anggota Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan telah menurun menjadi 159 juta barel di atas rata-rata lima tahun terakhir.

Gene McGillian, manajer riset pasar di Tradition Energy mengatakan pasar berkonsolidasi di bawah level tertinggi baru-baru ini di tengah optimisme bahwa anggota OPEC mematuhi kesepakatan pemangkasan.

“Namun investor menunggu untuk melihat apakah dampak pemangkasan produksi dan kenaikan permintaan benar-benar mengetatkan keseimbangan antara permintaan dan pasokan," ungkap McGillian, seperti dikutip dari Bloomberg.

Minyak telah naik selama dua pekan berturut-turut dan berada di atas level US$51 per barel di New York. OPEC dan mitranya menekankan bahwa semua opsi untuk menyeimbangkan pasar akan dibiarkan terbuka dan mengatakan bahwa pemenuhan pemotongan tersebut mencapai 120% bulan lalu.
 

Pergerakan harga batu bara kontrak Januari 2018 di bursa Rotterdam

Tanggal                                    

US$/MT

23 Oktober

89,50

(-0,67%)

20 Oktober

90,10

(-0,50%)

19 Oktober

90,55

(-1,95%)

18 Oktober

92,35

(+1,43%)

17 Oktober

91,05

(+0,05%)

 

 

  

Sumber: Bloomberg

 

 

 

 

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga batu bara
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top