Biaya Dana Obligasi Berpotensi Terus Turun

Biaya dana penerbitan obligasi diperkirakan berpotensi kian rendah di masa mendatang seiring tren penurunan yield surat utang negara yang semakin murah.
Lukas Hendra TM
Lukas Hendra TM - Bisnis.com 28 Agustus 2017  |  20:56 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Biaya dana penerbitan obligasi diperkirakan berpotensi kian rendah di masa mendatang seiring tren penurunan yield surat utang negara yang semakin murah.

Berdasarkan data Bloomberg, yield surat utang negara seri acuan untuk tenor 10 tahun mengalami penurunan signifikan selama tiga hari perdaganan terakhir, melanjutkan tren penurunan sejak awal tahun.

Dalam tiga hari perdangan terakhir, yield SUN seri acuan FR0059 telah terkoreksi 1,28% dari 6,84% menjadi 6,75% pada akhir perdagangan Senin (28/8). Selama sebulan terakhir, yield seri ini telah turun 2,48% dan sejak awal tahun sudah turun 13%.

Wahyu Trenggono, analis Indonesia Bond Pricing Agency, mengatakan bahwa pasar obligasi Indonesia saat ini terus membaik. Beberapa tahun terakhir, semua faktor ekonomi yang terkait dengan pasar obligasi dalam negeri memang menunjukkan perkembangan positif.

“Kita bisa melihat nilai tukar yang stabil, pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat, angka inflasi yang terus terkendali. Hal-hal itu membuat pasar obligasi dalam negeri kita menjadi sangat positif di mata investor,” katanya, Senin (28/8/2017).

Kinerja ekonomi yang secara umum positif pun telah mendapat afirmasi dari lembaga pemeringkat internasional, terbukti dengan penetapan peringkat layak investasi oleh tiga lembaga pemeringkat utama dunia, terakhir oleh S&P.

Dua lembaga pemeringkat di antaranya, yakni Fitch dan Moody’s bahkan telah memberi indikasi peningkatan peringkat lebih lanjut bagi Indonesia seiring penetapan perbaikan outlook Indonsia dari stabil menjadi positif oleh keduanya.

Apalagi, Bank Dunia juga memberi prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus meningkat dari tahun 5,1% tahun ini, menjadi 5,2% tahun depan dan 5,3% pada 2018.

Hal tersebut memberi kepercayaan diri kepada investor untuk menanamkan dananya dalam instrumen surat utang di Indonesia. Alhasil, permintaan yang meningkan ini berpotensi terus mendorong harga obligasi meningkat, sementara yield terus turun.

Turunnya yield surat utang negara turut diikuti turunnya yield obligasi korporasi sehingga memberi peluang bagi korporasi-korporasi untuk mendulang modal dengan biaya murah.

Wahyu mengatakan, yield obligasi korporasi untuk tenor 5 tahun dengan rating AA sudah turun dari posisi awal thaun 9,8% menjadi kini 8,8%. Sementara itu, untuk tenor yang sama dengan rating AAA sudah turun dari 9,4% menjadi 8,1%.

Menurutnya, dua kebijakan pemerintah, yakni upaya untuk menekan inflasi dan menurunkan suku bunga perbankan, sudah cukup kuat untuk bisa mempertahankan tren cost of fund murah bagi penerbitan obligasi selanjutnya.

“Dengan kombinasi keadaan makro ekonomi, kebijakan pemerintah, dan kondisi global, kita bisa melihat justru level yang ada sekarang masih bisa menunjukkan perbaikan lagi. Cost of fund masih bisa lebih rendah lagi,” katanya.

Dirinya menilai, kondisi saat ini berpotensi terus membaik, setidaknya hingga menyamai kondisi pasar obligasi 2012. Pada Juni 2012, posisi yield SUN tenor 10 tahun berkisar pada 6,5%, sementara obligasi koporasi AAA tenor 5 tahun 8,02% dan AA tenor 5 tahun 9,2%.

Silvano Rumantir, Direktur Utama Mandiri Sekuritas, mengatakan keputusan pemerintah memangkas suku bunga acuan pekan lalu memberi sinyal ingin lebih mendorong ekonomi. Pemerintah ingin membantu korporasi agar bisa mendapatkan modal dengan biaya dana lebih murah di pasar obligasi.

“Kalau investor dalam dan luar negeri melihat itu sebagai sinyal positif, harusnya ada rally di SUN. Kalau ada rally di SUN dan yield turun, seharusnya corporate bond akan lebih kompetitif,” katanya.

Sebelumnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia juga memprediksi jumlah penerbitan baru obligasi korporasi tahun depan akan menjadi puncak sepanjang sejarah peneribitan obligasi korporasi di Indonesia.

Tren suku bunga murah yang diprediksi akan terus berlanjut menjadi pendorong banyak emiten memburu dana investor melalui penerbitan obligasi atau surat utang. Setelah menyentuh puncak penerbitan dengan Rp114 triliun tahun lalu, tahun ini berpotensi mencapai puncak baru Rp199,6 triliun dan tahun depan mencapai lebih dari Rp120 triliun.

Ahmad Mikael, ekonomi Pemeringkat Efek Indonesia, mengatakan bahwa tingginya penerbitan obligasi baru memang berpotensi menimbulkan banjir pasokan, apalagi pemerintah juga akan menerbitkan surata berharga negara dalam porsi cukup besar.

Namun, dirinya meyakini hal tersebut tidak akan berimbas pada penurunan harga atau peningkatan yield di pasar obligasi. Pasalnya, Pefindo meyakini minat investor juga akan ikut meningkat dan mengimbangi pasokan yang ada. Tren tersebut sudah terjadi tahun ini, di mana pasokan yang tinggi justru mendorong yield semakin rendah

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top