Ini Alasan Kenapa Kain Songket Harus Standar SNI

Perajin songket Silungkang Sawahlunto, Sumatera Barat, harus menciptakan produk berstandar nasional Indonesia (SNI).
Newswire | 26 Agustus 2017 08:31 WIB
Sejumlah siswa melihat proses pembuatan tenunan kain songket Batubara saat berkunjung di Batubara, Sumatera Utara - Antara/Septianda Perdana

Bisnis.com, JAKARTA - Perajin songket Silungkang Sawahlunto, Sumatera Barat, harus menciptakan produk berstandar nasional Indonesia (SNI) agar diterima pasar dalam dan luar negeri, kata Direktur Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan Koperasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Ahmad Dading Gunadi.

"Selain mengikuti pameran di luar negeri sehingga tahu seperti apa kualitas yang dibutuhkan di pasar luar negeri, produk juga harus memiliki Standar Nasional Indonesia," ujarnya, usai pembukaan Sawahlunto International Songket Carnival (SISCa) 2017 yang digelar oleh Pemerintah Kota Sawahluto, Sumatera Barat,, Jumat (25/8).

Pihak pemerintah, menurut dia, juga harus melakukan pendampingan dan pembinaan untuk mengurus SNI bagi masyarakat.

Apalagi, Pemerintah Kota (Pemkot) Sawahlunto tengah mengusulkan  songket Silungkang diakui sebagai warisan dunia Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO).

Ia menyatakan Bappenas mendorong agar Pemkot Sawahlunto mengumpulkan dokumen atau tulisan-tulisan yang menyatakan bahwa songket Silungkang memang asli berasal dari daerah itu.

"Nanti, kami juga akan membantu mengumpulkan dokumen-dokumen tersebut," ujarnya.

Ia juga meminta Pemkot Sawahlunto untuk menggandeng perguruan tinggi membuat kajian akademis sebagai upaya agar songket Silungkang benar-benar bisa diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO.

Wali Kota Sawahlunto Ali Yusuf menyebutkan dalam menjaga kualitas kerajinan songket tersebut pemerintah, baik daerah maupun pusat, terus melakukan pembinaan dan pendampingan.

"Pada 2016 Badan Ekonomi Kreatif Indonesia juga melakukan pembinaan agar standar kualitas tetap bisa dipertahankan," ujarnya.

Perajin songket Silungkang di Sawahlunto, menurut dia, kini juga telah mengembangkan songket dengan pewarnaan alami, bahkan salah seorang perajinnya menjadi duta di Brussel, Belgia, terkait penggunaan pewarna alami.

Pihaknya kini juga tengah berupaya agar songket Silungkang bisa memiliki hak paten.

"Pada 20 Mei kemarin kami ke Belanda. Kami baru tahu bahwa terdapat 37 motif songket Silungkang yang ada sejak zaman penjajahan Belanda. Kami akan membawanya kembali ke Indonesia," ujarnya.

Setelah dibawa kembali ke Indonesia, dikemukakannya, pihaknya akan meminta para perajin songket di daerah itu bisa mengembangkan lebih jauh lagi.

Salah seorang perajin songket Silungkang, Anita Dona Asri (31), mengemukakan bahwa salah satu kesulitan dalam memasarkan songket ke luar negeri sangat terkait dengan standar kualitasnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
songket

Sumber : Antara

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup