Reliance Sekuritas Rekomendasi Overweight di 4 Sektor

Perusahaan sekuritas PT Reliance Sekuritas Indonesia merekomendasikan overweight untuk empat sektor.
Yodie Hardiyan | 27 Mei 2017 17:40 WIB
Logo Bank BCA, sahamnya termasuk yang direkomendasikan karena merupakan emiten yang paling prudent di sektornya dengan berhasil menjaga NPL (rasio kredit bermasalah) di level terendah - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan sekuritas PT Reliance Sekuritas Indonesia merekomendasikan overweight untuk empat sektor dengan sejumlah saham pada 2017.

Dalam publikasi berjudul Indonesia Outlook 2017-2018: Equity Market, Robertus Yanuar Hardy, Head of Research Reliance Sekuritas, menyebutkan sektor itu meliputi pertambangan, perbankan, konsumer atau ritel, dan konstruksi.

“Pertambangan, terutama UNTR sebagai pemilik lini bisnis terlengkap dari hulu hingga hilir, dan PTBA sebagai BUMN utama penyedia batu bara bagi pembangkit listrik PLN, serta ITMG HRUM dan ADRO yang memiliki pangsa pasar ekspor cukup besar,” tulis Robertus dalam publikasinya seperti dikutip pada Sabtu (27/5/2017).

UNTR merupakan kode untuk saham PT United Tractors Tbk., PTBA (PT Bukit Asam (Persero) Tbk.,), ITMG (PT Indo Tambangraya Megah Tbk.), HRUM (PT Harum Energy Tbk.) dan ADRO (PT Adaro Energy Tbk.).

“Perbankan, terutama BBTN yang akan banyak memperoleh manfaat dari program sejuta rumah, BBRI sebagai penyalur KUR, Dana Desa, dan BUM-Des, serta BBCA sebagai emiten yang paling prudent di sektornya yang berhasil menjaga NPL (rasio kredit bermasalah) di level terendah,” tulis Robertus.

Selain itu, posisi BMRI dan BBNI sebagai koordinator pembiayaan proyek infrastruktur dan cash management BUMN juga menjadikannya patut untuk dicermati.

BBTN adalah kode untuk PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.), BBCA (PT Bank Central Asia Tbk.), BMRI (PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.) dan BBNI (PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.).

“Sektor konsumer, retail, dan consumer-related seperti INDF ICBP ROTI MAPI RALS dapat memperoleh manfaat dari potensi peningkatan pertumbuhan ekonomi dan konsumsi domestik. JPFA CPIN SIMP TBLA juga layak dicermati terkait kemungkinan meningkatnya konsumsi ayam, minyak goreng, dan gula domestik, terutama menjelang hari raya,” paparnya.

INDF kode untuk PT Indofood Sukses Makmur Tbk., ICBP (PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.), ROTI (PT Nippon Indosari Corpindo Tbk.), MAPI (PT Mitra Adi Perkasa Tbk.), RALS (PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk.), JPFA (PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk.), CPIN (PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk.), SIMP (PT Salim Ivomas Pratama Tbk.) dan TBLA (PT Tunas Baru Lampung Tbk.).

“Kami juga masih optimis terhadap potensi pertumbuhan pada sektor properti konstruksi seperti ADHI WIKA WSKT PTPP, yang meskipun pergerakan harga sahamnya sekarang ini masih melemah, namun kami yakin menjelang semester II nanti dapat kembali pulih seiring kejelasan skema pembiayaan LRT, serta kelanjutan pembangunan jalan tol, fly over, pelabuhan, bandara, dll,” tulis Robertus.

ADHI adalah kode untuk PT Adhi Karya (Persero) Tbk., WIKA (PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.), WSKT (PT Waskita Karya (Persero) Tbk.) dan PTPP (PT PP (Persero) Tbk.

Tag : reliance securities
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top