Harga Pelaksanaan Right Issue PPRO Rp280 Per Saham

Emiten properti PT PP Properti Tbk. mengumumkan harga pelaksanaan right issue sebesar Rp280 per saham dengan total saham yang akan dikeluarkan sebanyak 5,49 miliar lembar. Dari aksi tersebut, perseroan akan mengantongi dana segar Rp1,53 triliun.
Emanuel B. Caesario | 29 Maret 2017 19:25 WIB
Direktur Utama PT PP Properti Tbk Taufik Hidayat (kiri) berbincang dengan Preskom Lukman Hidayat, seusai rapat umum pemegang saham tahunan perseroan, di Jakarta, Rabu (8/3). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten properti PT PP Properti Tbk. mengumumkan harga pelaksanaan right issue sebesar Rp280 per saham dengan total saham yang akan dikeluarkan sebanyak 5,49 miliar lembar. Dari aksi tersebut, perseroan akan mengantongi dana segar Rp1,53 triliun.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dipublikasikan perseroan pada Rabu (29/3), perseroan akhirnya memutuskan untuk menerbitkan 5,49 miliar lembar saham baru, lebih sedikit dari rencana awal maksimal 7,33 miliar saham.

Total saham baru tersebut setara dengan 8,91% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah right issue ini.

Setiap pemegang satu juta saham lama yang tercatat hingga 7 April 2017, akan berhak atas 97.869 hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Satu HMETD berhak membeli satu saham baru dengan harga pelaksanaan Rp280.

Perseroan sudah mengantongi komitmen dari induk usahanya selaku pemegang saham utama yakni PT PP (Persero) Tbk. untuk mengambil haknya. Selain itu, tiga sekuritas telah berkomitmen menjadi pembeli siaga atas penerbitan HMETD ini, yakni Bahana Sekuritas, Danareksa Sekuritas dan Trimegah Sekuritas Indonesia.

Apabila seluruh pemegang saham lainnya memutuskan tidak menggunakan haknya, maka ketiga sekuritas tersebut masing-masing akan menggenggam porsi kepemilikan atas perseroan sebesar 1,03% untuk Bahana, 1,03% untuk Trimegah, dan 1,06% untuk Danareksa.

“Pemegang saham publik yang tidak melaksanakan haknya untuk membeli saham baru yang ditawarkan dalam PMHMETD I ini sesuai dengan HMETD-nya akan mengalami penurunan persentase kepemilikan sahamnya (dilusi) dalam jumlah maksimum sebesar 8,91%,” ungkap manajemen perseroan dalam prospektus, Rabu (29/3/2017).

Dengan demikian, perseroan memiliki kepastian mengantongi dana segar Rp1,5 triliun di akhir April tahun ini setelah pelaksanaan right issue selesai. Berdasarkan prospektus, perseroan berencana memanfaatkan 70% dari hasil right issue tersebut untuk investasi pengembangan usaha properti di Jawa, NTT, NTB dan Sulawesi melalui perseroan atau anak usahanya.

Setelah dikurangi biaya-biaya emisi, 70% dari hasil dana right issue akan setara dengan Rp1 triliun.

Selebihnya, 20% akan digunakan untuk modal kerja perseroan dan 10% untuk refinancing sebagian utang perseroan pada PT Aneka Bangunan Mulia Jaya untuk pembelian tanah senilai Rp150 miliar tanpa bunga. Adapun, jangka waktu utang tersebut mencapai delapan tahun dengan sisa utang per 31 Desember 2016 sebesar Rp468,6 miliar.

Sebelumnya, Taufik Hidayat, Direktur Utama PP Properti mengatakan, secara lebih spesifik dana hasil right issue tersebut akan digunakan untuk penambahan aset cadangan lahan antara 10 hektar hingga 20 hektar. Aset seluas 10 hektar hingga 20 hektar tersebut akan dikembangkan tahun ini juga.

Taufik tidak merinci lebih jauh di mana aset tersebut berada, tetapi dalam kesempatan terpisah Direktur Keuangan PPRO Indaryanto mengungkapkan perseroan memiliki rencana untuk menuntaskan negosiasi kerja sama dengan salah satu mitra di Bandung atas lahan seluas 21 hektar.

Negosiasi kerja sama  tersebut sudah berjalan lama sejak 2015 lalu. Keputusan akhirnya bisa saja berubah menjadi lebih kecil dari 21 hektar. Namun, perseroan juga tengah serius menjajaki dua titik lahan lain di lokasi yang strategis di Bandung, masing-masing dekat stasiun kereta api dan salah satu kampus di Bandung.

Indaryanto tidak merinci luas maupun lokasi persisnya, tetapi luasan keduanya lebih kecil dari mitra pertama tadi. Kerja sama tersebut cukup serius sehingga perseroan mengagendakan proyek baru di lahan itu sudah bisa dimulai tahun ini.

“Yang jelas kita targetkan di semester kedua tahun ini kita sudah ada land bank di Bandung, entah yang 21 hektar itu ataukah yang dua lokasi lainnya yang lebih kecil,” kata Indaryanto.

Taufik mengatakan, selain lahan baru seluas 10 hektar hingga 20 hektar yang akan segera dikembangkan tahun ini, perseroan juga mengagendakan pemanfaatan dana right issue untuk menambah cadangan lahan lainnya untuk kepentingan pengembangan jangka menengah dan panjang.

Disamping itu, dana tersebut akan digunakan untuk meningkatkan pendapatan berulang atau recurring income berupa penambahan hotel di Surabaya, Lombok dan Labuan Bajo. Perseroan juga berencana mengakuisis satu hotel bar tahun ini, entah di Yogyakarta atau Bali dari dana right issue itu.

Dengan investasi pada properti investasi tersebut, aset perseroan yang sebesar Rp8,8 triliun di akhir tahun 2016 diharapkan meningkat menjadi sekitar Rp17 triliun pada 3 tahun hingga 5 tahun kedepan.

Tag : right issue, ppro
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top