Musim Dingin Berakhir, Harga Logam Menghijau

Harga logam kompak mengalami penguatan seiring dengan proyeksi meningkatnya permintaan China menjelang masa penggenjotan produksi industri setelah berakhirnya musim dingin.
Hafiyyan | 20 Maret 2017 19:33 WIB
Logam mulia - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA--Harga logam kompak mengalami penguatan seiring dengan proyeksi meningkatnya permintaan China menjelang masa penggenjotan produksi industri setelah berakhirnya musim dingin.

Pada penutupan perdagangan Jumat (17/3), harga logam dasar kompak menghijau. Peningkatan harian dipimpin komoditas timbal sebesar 2,1% menuju level US$2.290 per ton. Seng menyusul kenaikan sejumlah 1,87% menjadi US$2.882 per ton.

Guo Qiuying, analis SDIC Essense Futures, menyampaikan harga logam ditopang oleh proyeksi meningkatnya permintaan China menjelang musim produksi industri. Artinya, perusahaan-perusahaan membutuhkan lebih banyak bahan baku.

"Pasar membutuhkan bukti permintaan fisik untuk merangsang kenaikan lebih lanjut seperti saat memasuki masa puncak produksi industri," tuturnya seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (20/3/2017).

Situasi di China sangat memengaruhi pasar logam. Berdasarkan data Bank Dunia, Negeri Panda merupakan pusat pengolahan dan konsumsi logam industri terbesar di dunia, seperti aluminium, tembaga, nikel, timbal, timah, dan seng.

JP Morgan dalam risetnya akhir pekan lalu memaparkan, kenaikan harga logam didukung oleh proyeksi pertumbuhan global yang mencapai 2,9% pada 2017. Angka ini berada di atas pertumbuhan dalam lima tahun terakhir, sehingga meningkatkan optimisme dari sisi permintaan.

Data Purchasing Managers Index (PMI) global juga mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Namun demikian, masih ada sentimen-sentimen yang diantisipasi pasar seperti kebijakan perdagangan internasional dari sejumlah negara dan risiko politik menjelang pemilihan umum di zona Eropa.

Pertumbuhan ekonomi China pada 2017 diperkirakan mencapai 6,6%, masih stabil meskipun di bawah tahun lalu sebesar 6,7%. Agak melambatnya ekonomi diperkirakan berlangsung pada kuartal I/2017 akibat mendinginnya pasar properti dan otomotif.

Namun kegiatan infrastruktur masih kuat, dengan produksi listrik, baja, dan semen yang solid. Faktor tersebut akan menopang harga logam dalam jangka panjang.

Dari sisi suplai, pemerintah China juga bersungguh-sungguh melakukan reformasi suplai untuk membenahi harga komoditas dan melawan polusi lingkungan. Selain itu, kelebihan pasokan dapat menekan neraca utang perusahaan produsen.

Pada 2017, Morgan memprediksi aluminium memimpin kenaikan harga logam dengan pertumbuhan sebesar 21% year on year/yoy menjadi US$1.953 per ton, dari 2016 senilai US$1.610 per ton. Kemudian disusul harga tembaga yang menguat 15% yoy menuju US$5.740 per ton dari tahun lalu sebesar US$4.872 per ton.

Tag : logam, musim dingin
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top