Ditopang Sentimen Positif, IHSG Raih Level Tertinggi Baru

Kepastian pengerekan suku bunga Federal Reserve dan pembagian dividen dari emiten membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level tertinggi sepanjang sejarah.
Hafiyyan | 17 Maret 2017 20:03 WIB
Ilustrasi - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA  -- Kepastian pengerekan suku bunga Federal Reserve dan pembagian dividen dari emiten membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level tertinggi sepanjang sejarah.

Pada perdagangan Jumat (17/3/2017), IHSG menguat 0,4% atau 22,19 poin menuju 5.540,43 setelah bergerak di dalam rentang 5.557,97-5.499,38. Ini menunjukkan indeks berada di level tertinggi sepanjang sejarah.

Dalam sepekan, IHSG menghijau 2,78%. Adapun sepanjang tahun berjalan, indeks meningkat 4,6% dan memberikan return ke-8 terbesar di antara bursa sedunia.

William Surya Wijaya, analis PT Asjaya Indosurya Securities, mengatakan keputusan hasil Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (15/3) atau Kamis (16/3) pagi WIB memberikan kepastian terhadap investor. Sebagai pusat ekonomi global, kebijakan-kebijakan moneter AS selalu ditunggu pelaku pasar.

Kendati Fed memutuskan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 0,75%--1%, selera pasar untuk berinvestasi di pasar modal dalam negeri tetap meningkat.

"Yang penting pasar mendapatkan kepastian dari hasil rapat The Fed ini. Capital inflow juga meningkat," ujarnya kepada Bisnis.com, Jumat (17/3/2017).

Hari ini, investor asing membukukan capaian aksi beli bersih senilai Rp2,87 triliun. Capaian itu membuat perolehan net buy sepanjang 2017 menebal menjadi Rp4,28 triliun atau US$320,96 miliar.

Sebelumnya pada Rabu (15/3), investor asing masih melakukan net sell sepanjang tahun berjalan sebesar Rp47,68 miliar atau US$3,5 miliar. Situasi mulai berbalik menjadi net buy pada perdagangan Kamis (16/3) menjadi Rp1,79 triliun atau US$134,61 miliar.

Dari sisi internal, membaiknya kinerja emiten pada 2016 yang berujung kepada pemberian dividen turut memberikan sentimen positif. Alhasil investor tertarik melakukan aksi beli.

Perbaikan data ekonomi 2017 pun membuat proyeksi kinerja emiten bakal meningkat di tahun ayam api. Pada pekan ini, rilis neraca perdagangan nasional periode Februari 2017 yang mengalami suprlus sebesar US$1,32 miliar turut memberikan sentimen positif.

Bank Indonesia juga mempertahankan suku bunga 7 days repo rate di level 4,75%. Faktor-faktor ini cukup memberikan rasa nyaman terhadap investor.

Pada pekan depan, IHSG diprediksi mengalami konsolidasi tetapi masih memiliki potensi penguatan. Harga diperkirakan bergerak dalam rentang 5.402-5.611.

Masih kokohnya fundamental perekonomian juga membuat rupiah mengalami peningkatan. Pada penutupan perdagangan Jumat (17/3), mata uang Garuda menguat 2 poin atau 0,01% menjadi Rp13.345 per dolar AS setelah diperdagangkan pada kisaran Rp13.358 – Rp13.314 per dolar AS.

Kurs tengah dipatok Rp13.342 per dolar AS. Sepanjang tahun berjalan, rupiah menguat tipis 0,95%.

Harry Su, Kepala Riset PT Bahana Securities, menambahkan kenaikan IHSG ke rekor tertinggi merupakan antisipasi pasar terhadap kemungkinan naiknya Indonesia menjadi investment grade dari S&P. Menurutnya, IHSG berada dalam tren bullish, setidaknya sampai masa pemilihan kepala daerah pada 19 April 2017.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup