KALBE FARMA SAMBANGI BISNIS INDONESIA: Andalkan Lini Digital Lewat Anak Usaha

PT Kalbe Farma Tbk menyambangi redaksi Bisnis siang ini, Selasa (14/3/2017). Hadir pada pertemuan ini Presiden Direktur Kalbe Farma Irawati Setiady dan Sekretaris Perusahaan Kalbe Farma Vidjongtius.
Ratna Ariyanti | 14 Maret 2017 16:22 WIB
Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Hery Trianto (kanan) memberikan sambutan kepada manajemen PT Kalbe Farma Tbk yakni Presiden Direktur Irawati Setiady (tengah) dan Sekretaris Perusahaan Vidjongtius saat menyambangi redaksi Bisnis Indonesia siang ini, Selasa (14/3 - 2017).

Bisnis.com, JAKARTA--PT Kalbe Farma Tbk menyambangi redaksi Bisnis siang ini, Selasa (14/3/2017). Hadir pada pertemuan ini Presiden Direktur Kalbe Farma Irawati Setiady dan Sekretaris Perusahaan Kalbe Farma Vidjongtius.

Kalbe Farma berdiri pada 1966. Tahun berikutnya, perseroan yang kini mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham KLBF tersebut mulai memproduksi obat sirup di sebuah garasi di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Perusahaan produk kesehatan terbesar di Asia Tenggara ini memiliki empat segmen usaha yaitu obat resep, produk kesehatan, nutrisi, serta distribusi dan logistik.

Pada tahun ini, perusahaan mengalokasikan belanja modal di kisaran Rp1,2 triliun sampai Rp1,5 triliun, tidak jauh berbeda dibandingkan dengan anggaran pada tahun lalu.

Belanja modal tersebut akan menggunakan sumber dana internal. Dengan besaran belanja modal tersebut, Kalbe Farma membidik target pertumbuhan penjualan di kisaran 8%-10% pada tahun ini.

16:20 WIB

Pkl 16.20 WIB: Andalkan Lini Digital Lewat Anak Usaha

Kalbe Farma juga mengandalkan lini digital untuk memperkuat bisnis. Bisnis ini dikendalikan oleh anak usaha perusahaan PT Karsa Lintas Buana. Perusahaan misalnya memiliki Kalbestore.com yang memasarkan sejumlah produk,

"Tren tumbuh lumayan karena banyak orang ingin mencoba. Cost lebih efisien karena bisa langsung melayani konsumen," ujar Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk Irawati Setiady.

Omzet toko online ini mencapai sekitar Rp200 miliar per tahun.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Perusahaan Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan Kalbe Store bukan untuk menggantikan jaringan penjualan konvensional yang sudah ada. "Ini sebagai pilihan bagi konsumen. Selain itu, channel online ini juga akan mengoptimalisasi jaringan Kalbe Farma yang tersebar di 52 kota," kata Vidjongtius.

Pasar penjualan dalam jaringan terus memperlihatkan pertumbuhan di dalam negeri. Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) memproyeksikan industri ini akan terus tumbuh 30%-40% pada 2017 dan mencapai US$130 miliar pada 2020.

Pemerintah Indonesia telah merilis peta jalan atau roadmap e-commerce. Dari tujuh substansi utama dalam paket kebijakan tersebut yang dinilai akan mendorong ekonomi digital di Indonesia terdapat 31 inisiatif dalam bentuk regulasi yang melibatkan kementerian dan lembaga terkait.

15:57 WIB

Pkl 15.57 WIB: Tulang Punggung Pendapatan Andalkan Produk Nutrisi & Obat Resep

Kalbe Farma mengembangkan obat berbahan herbal, termasuk produk Bejo dan obat untuk mengatasi kembung Gazero yang menggunakan bahan baku jahe merah.

Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk Irawati Setiady mengatakan perusahaan mencari petani jahe merah di Jawa Tengah dan Jawa Timur guna memenuhi pasokan bahan baku.

"Kebutuhan kami sampai berton-ton. Kami berharap pasokan dapat sepenuhnya dipenuhi dari petani lokal," ujar Irawati.

Selain jahe merah, perusahaan juga mencari pasokan buah, seperti sirsak, jambu, dan apel serta sayur mayur. Bahan baku ini digunakan untuk memproduksi minuman kesehatan, termasuk Original Love Juice (OLJ).

Bisnis Kalbe ditopang oleh empat segmen usaha yaitu obat resep, produk kesehatan, nutrisi, serta distribusi dan logistik. Tulang punggung pendapatan perusahaan masih berasal dari produk nutrisi dan obat resep.

Kedua jenis produk tersebut berkontribusi masing-masing Rp4,07 triliun dan Rp3,38 triliun, sedangkan penjualan produk kesehatan dan lainnya mencapai Rp2,57 triliun sepanjang Januari-September 2016.

15:14 WIB

Pkl 15.14 WIB: Perkuat Ekspor ke 16 Negara

Kalbe Farma terus memperkuat ekspor ke 16 negara, termasuk ke sejumlah negara di Asia Tenggara, Afrika Selatan, Sri Lanka, dan Nigeria.

Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk Irawati Setiady mengatakan penjualan ekspor ke-16 negara telah mencapai Rp800 miliar.

Irawati mencontohkan produk Diabetasol sangat populer di Filipina. Adapun produk lain produksi perusahaan Mixagrip diklaim menjadi nomor satu di Myanmar. Di negara tujuan lain, Sri Lanka, Kalbe Farma masuk ke jajaran 10 besar.

"Kami ingin memiliki brand yang juga besar di luar negeri. Semoga trade ke depan akan jauh lebih baik, terutama dengan kunjungan kenegaraan dari pimpinan negara lain ke Indonesia," ujar Irawati.

Pekan lalu, Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Selain Presiden Zuma, Presiden Republik Sosialis Demokratik Sri Lanka Maithripala Sirisena juga mengunjungi Indonesia.

Pendapatan dari ekspor mencapai Rp713,55 miliar selama Januari-September 2016, atau naik 10,77% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp644,15 miliar. Adapun, untuk pasar domestik, Kalbe Farma mengemas penjualan sebesar Rp13,66 triliun sepanjang Januari-September 2016, atau tumbuh 9,44% secara tahunan.

14:59 WIB

Pkl 14.59 WIB: Bangun Pabrik Rp500 Miliar Kembangkan Produk Biosimilar

Kalbe Farma berkomitmen untuk mengembangkan bahan baku farmasi berbasis sel atau produk biosimilar.

Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk Irawati Setiady menjelaskan salah satu strategi adalah pembangunan pabrik dengan investasi hingga Rp500 miliar.

Irawati menjelaskan perusahaan berkolaborasi dengan perusahaan di Korea Selatan, termasuk untuk alih pengetahuan dan riset serta pengembangan produk.

Sebelumnya, perusahaan menyebutkan memilih produksi biosimilar karena proses tersebut dinilai lebih efektif mensubstitusi kebutuhan impor dibandingkan dengan produksi bahan baku farmasi berbasis kimia.

Pemindahan pasokan bahan baku farmasi berbasis kimia (active pharmaceutical ingredients) ke dalam negeri hanya bisa menghemat devisa sebesar 10%—20% karena bahan baku produksi active pharmaceutical ingredients masih harus diimpor.

Di sisi lain, proses produksi biosimilar menggunakan sel induk (master cell). Kalbio Global Medika, anak perusahaan Kalbe Farma, misalnya, memiliki sel induk yang bisa digunakan untuk menghasilkan bahan baku farmasi hingga 30–50 tahun ke depan.

Tag : kalbe farma
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top