Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BURSA AS: Sampai Tengah Dagang, Indeks S&P Dipacu Data Ekonomi China

Bursa saham Amerika Serikat menguat hingga pertengahan perdagangan Selasa atau Rabu dini hari WIB
Linda Teti Silitonga
Linda Teti Silitonga - Bisnis.com 11 Januari 2017  |  00:20 WIB
Bursa AS menguat hingga pertengahan dagang. - .Reuters/Carlo Allegri
Bursa AS menguat hingga pertengahan dagang. - .Reuters/Carlo Allegri

Bisnis.com, JAKARTA- Bursa saham Amerika Serikat menguat hingga pertengahan perdagangan Selasa atau Rabu dini hari WIB.

Indeks saham bursa AS didorong menguatnya harga logam di saat meningkatnya harga produsen di China.

Indeks The S&P 500 menguat 0,2% ke 2.274,25 pada Selasa, pk. 11:14 waktu New York.

"Pedagang mewaspada menjelang pertemuan media," kata Naeem Aslam, Kepala Analis Pasar Think Markets U.K. Ltd. Seperti dikutip Bloomberg, Rabu (11/1/2017).

Seperti diketahui presiden terpilih AS Donald Trump dijadwalkan untuk mengadakan konferensi pers yang bisa memberikan gambaran terkait kebijakannya.

Seperti diketahui, harga produsen China merangkak menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir pada Desember 2016, seiring dengan kenaikan harga batu bara dan bahan baku lainnya.

Kejadian tersebut menjadi tanda mulai stabilnya negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu. Penguatan tersebut disokong oleh aktivitas manufaktur yang membaik dan permintaan domestik yang dipacu oleh kredit dan pembangunan properti.

Mengutip dari Reuters, Selasa (10/1/2017), Producer price index (PPI) naik 5,5% pada Desember 2016 (y-o-y), menjadi yang tertinggi sejak September 2011. Adapun kenaikan pada November mencapai 3,3%.

Sebelumnya, beberapa analis memprediksi kenaikan hanya mencapai 4,5%. Bahan baku dan pertambangan menunjukkan pertumbuhan yang cukup gesit di awal tahun ini.

Di samping itu, Badan statistika setempat mengatakan volatilias dalam perubahan nilai tukar menjadi penyebab kenaikan harga produsen seiring dengan harga komoditas impor yang semakin mahal. Adapun inflasi konsumen naik 2,1% yang diikuti oleh kenaikan harga pangan.

Pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, analis dari HSBC menaikkan prediksi mereka terhadap pertumbuhan ekonomi global dan inflasi dalam dua tahun ke depan yang didasarkan dari penguatan kegiatan manufaktur dan fleksibilitas China terhadap semua sentimen fiskal yang kemungkinan terdampak dari naiknya Donald Trump sebagai Presiden AS.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as
Editor : Linda Teti Silitonga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top