Dolar AS Diborong, Deflasi Gagal Angkat Rupiah

Kendati data inflasi cukup positif, pasar relatif tak menggubris. Rupiah justru tertekan 0,29% menjadi Rp12.970 per dolar Amerika Serikat berdasarkan data Bloomberg Dollar Index.
Sri Mas Sari | 02 Maret 2015 23:36 WIB
Pergerakan Rupiah per dolar AS dari 1997 hingga Februari 2015 - Bisinis/Husin Parapat

Bisnis.com, JAKARTA - Kendati data inflasi cukup positif, pasar relatif tak menggubris. Rupiah justru tertekan 0,29% menjadi Rp12.970 per dolar Amerika Serikat berdasarkan data Bloomberg Dollar Index.

Sebagian besar mata uang Asia tertekan melawan greenback, tetapi rupiah paling dalam setelah ringgit Malaysia yang jatuh 0,75%.

Pada hari ini (2/3/2015), Badan Pusat Statistik mengumumkan deflasi Februari 0,36%, berkebalikan dengan ekspektasi pasar  yang memperkirakan inflasi 0,18%, menurut estimasi median Bloomberg.

"Ada tekanan beli dolar di dalam negeri karena Maret adalah bulan orang banyak bayar utang. Karena tidak hedging, akhirnya mereka beli sekarang," kata Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih, Senin (2/3/2015).

Rupiah sejak awal tahun (year to date) melemah 4,7%. Meskipun demikian, dana terus mengalir ke pasar saham dan pasar obligasi Indonesia. Inflow di pasar saham hingga hari ini mencapai Rp11,2 triliun dan di pasar surat utang negara Rp46,3 triliun.

Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah terus turun. Yield SUN 10 tahun turun 71,6 basis poin menjadi 7,08% hari ini. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, deflasi februari

Editor : Yusran Yunus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top