Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Euforia Pasar Mulai Mereda

Euforia pasar dalam menyambut rencana pengembangan infrastruktur tahun ini tampak mulai mereda. Harga saham dari emiten konstruksi diperkirakan masih tetap bergerak walaupun tidak seagresif sebelumnya.
Fatia Qanitat
Fatia Qanitat - Bisnis.com 06 Februari 2015  |  05:00 WIB
Euforia pasar dalam menyambut rencana pengembangan infrastruktur tahun ini tampak mulai mereda. - JIBI
Euforia pasar dalam menyambut rencana pengembangan infrastruktur tahun ini tampak mulai mereda. - JIBI
Bisnis.com, JAKARTA—Euforia pasar dalam menyambut rencana pengembangan infrastruktur tahun ini tampak mulai mereda. Harga saham dari emiten konstruksi diperkirakan masih tetap bergerak walaupun tidak seagresif sebelumnya.
Dalam pergerakan harga saham, emiten konstruksi mengalami pertumbuhan signifikan sepanjang awal tahun ini. Harga saham dari PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., PT Adhi Karya (Persero) Tbk., PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. kompak mencapai level tertingginya per 3 Februari lalu.
Terhitung sejak pembukaan saham pada awal Januari hingga puncaknya, harga saham WSKT telah tumbuh hingga 24,91%. Lalu, PTPP mencatatkan pertumbuhan 14,76%, ADHI sebesar 6,29%, dan WIKA sebesar 3,8%.
Walaupun begitu, sehari setelahnya, harga saham dari seluruh emiten tersebut merosot, dengan penurunan paling tajam terjadi pada ADHI yakni -10,26%. Kemudian, WSKT turun 3,27%, PTPP (-4,12%), dan WIKA (-4,19%).
Setelah DPR menyatakan persetujuannya pada penyertaan modal negara (PMN) yang diberikan kepada ADHI serta WSKT, sesuai dengan yang diajukan oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara, dalam perdagangan hari ini saham dari emiten-emiten tersebut kembali menguat tipis.
Dalam penutupan perdagangan Kamis (5/2), ADHI berhasil tumbuh 3,37% (Rp3.525), PTPP sebesar 1,14% (Rp3.995), dan WSKT sebesar 1,13% (Rp1.790). Kendati demikian, harga saham WIKA masih masuk ke zona merah, dan melanjutkan penurunan 0,72% (Rp3.645).
Menurut Analis Pefindo Guntur Tri Harianto, harga saham dari emiten-emiten tersebut masih berpeluang tumbuh. Dia memperkirakan pertumbuhan tidak akan setinggi yang terjadi sebelumnya, karena lonjakan sudah terjadi lebih awal.
Berdasarkan kondisi terakhir, pembahasan pemberian PMN masih terus berlangsung di DPR, dan akan disahkan dalam APBN-P. Jika sesuai rencana, pengesahan akan dilakukan pada pertengahan bulan ini.
“Kalau kita lihat sekarang harganya sudah cukup mahal, dan mungkin ada potensi koreksi. Pertumbuhan yang sangat tinggi sebelumnya merupakan bentuk dari tingginya ekspektasi pasar terhadap rencana kerja pemerintah. Ekspektasi ini mendahului realisasi,” paparnya saat dihubungi Bisnis, Kamis (5/2/2015).
Jika persetujuan DPR nanti sudah disahkan, dan emiten yang bersangkutan mulai menjabarkan rencana pemanfaatan dana tersebut, pasar akan kembali merespons dengan positif. Untuk saat ini, dia melihat peluang pertumbuhan masih ada, tapi terbatas.
“Ruang tumbuhnya masih ada, tapi kita tidak tahu pasti potensinya bisa sejauh mana. Sepertinya tidak setinggi yang sudah terjadi. Pasar akan menunggu realisasinya seperti apa. Saat itu pertumbuhan akan melambat,” tambahnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga saham bursa saham indonesia
Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top