Analis Prediksi IHSG Tahun Ini Tembus 6.000, Koleksi Saham-Saham Ini

Setidaknya dua analis dari dua perusahaan sekuritas memprediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) dapat menembus 6.000 sepanjang tahun ini dan menyarankan investor segera mengoleksi saham-saham pilihan agar tidak tertinggal.
Sukirno | 04 Februari 2015 04:18 WIB
Karyawati mengamati pergerakan IHSG. - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA — Setidaknya dua analis dari dua perusahaan sekuritas memprediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) dapat menembus 6.000 sepanjang tahun ini dan menyarankan investor segera mengoleksi saham-saham pilihan agar tidak tertinggal.

Analis PT AM Capital Securities Viviet S. Putri mengatakan secara fundamental IHSG diprediksi masih terus menguat. Bahkan, dia memerkirakan IHSG akan menyentuh level 6.000 sepanjang tahun ini.

Pengaruh terbesar terhadap IHSG terutama dari faktor ekonomi global yang diperkirakan melemah di hampir semua negara, termasuk Indonesia. Bank Dunia bahkan telah menurunkan prediksi pertumbuhan Indonesia, termasuk China dan Amerika Serikat.

"Indeks akan tumbuh tetapi tidak sefantastis seperti tahun lalu karena ada ketakutan penarikan dana. Ekonomi dunia sedang rebalancing," ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (3/2/2015).

Harga minyak dunia diproyeksi juga akan terus dibiarkan oleh AS dan Arab Saudi. Dia menuding kondisi penurunan harga minyak itu memang disengaja oleh AS untuk menekan ekonomi Rusia. Kondisi demikian, membuat harga komoditas menjadi kian tertekan. 

Dari internal, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi akan positif yang didorong oleh konsumsi domestik. Namun, situasi politik dapat berpengaruh besar terhadap perkiraan pertumbuhan ekonomi Tanah Air.

Tidak hanya perseteruan antara KPK dan Polri, situasi PDI Perjuangan sebagai partai pengusung kabinet justru saat ini terkesan akan menjegal rencana kerja pemerintah. Tetapi, bila pemerintah mampu mewujudkan dana hasil penghematan subsidi ke sektor infrastruktur, tentu akan menjadi harapan besar bagi pergerakan ekonomi.

Pekerjaan terbesar bagi kabinet saat ini adalah menteri-menteri diharapkan tidak turut campur dalam urusan perpolitikan. Menteri-menteri Kabinet Joko Widodo-Jusuf Kalla diharapkan dapat fokus kepada pekerjaannya agar program terlaksana.

"Ekonomi sudah berjalan dengan baik, karena komposisi cadangan devisa terjaga, inflasi terjaga, ditambah dengan shifting dari penurunan subsidi, sehingga dari sisi ekonomi sangat terjaga," paparnya.

REKOMENDASI:

Saham yang diperkirakan masih menjadi pilihan tahun ini adalah sektor infrastruktur dan perbankan.

Rencana pemerintah dalam penggunaan dana subsidi untuk menggenjot infrastruktur dinilai menjadi katalis positif bagi emiten konstruksi.

Begitu pula dengan saham perbankan, dia menilai emiten perbankan masih akan membukukan kinerja positif dengan meraup marjin bunga yang tinggi. Akan tetapi, imbauan pemerintah agar perbankan menurunkan suku bunga dinilai dapat melemahkan kinerja emiten ini.

Saham yang perlu dihindari: sektor komoditas. Saham komoditas diperkirakan masih akan terpukul hingga akhir tahun ini. Namun, ada harapan dari saham perusahaan produsen nikel akibat adanya peningkatan harga setelah pasokan dari Filiphina berkurang.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah diperkirakan masih dipengaruhi oleh sentimen penguatan dolar AS. Dia menuturkan, yang perlu dicermati adalah penguatan dolar AS terhadap mata uang dunia, tidak hanya terhadap rupiah.

Secara terpisah, Kepala Riset PT Woori Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada, menilai IHSG akan bergerak hingga paling optimis pada level 6.000 sepanjang tahun ini. Namun, dia menargetkan level paling moderat pada angka 5.600-5.700.

Pada awal tahun ini, indeks memang terus menguat hingga menyentuh rekor baru di level 5.300. Hal itu didorong oleh periode laporan keuangan emiten yang kemudian akan konsolidasi setelah masa rilis kinerja berakhir.

"Ada 3 skenario dari kami, yang paling optimistis IHSG sampai 6.000, belum ada revisi," katanya.

Sentimen terhadap IHSG masih cukup besar dari faktor eksternal. Di antaranya, dari The Fed, perlambatan ekonomi China, pemulihan ekonomi Eropa dan AS, serta pengalihan dana besar-besaran ke AS maupun Eropa.

Sementara dari internal, sentimen terbesar justru datang dari perpolitikan Tanah Air. Politik di Indonesia berhubungan dengan kebijakan ekonomi, sehingga dinilai sangat berpengaruh terhadap IHSG.

Reza masih optimistis, kinerja pemerintah akan lebih baik pada tahun ini. Khususnya terkait pengalihan dana subsidi BBM yang cukup besar untuk merealisasikan program di sektor infrastruktur.

"PR terbesar sebenarnya bagaimana pemerintah bisa merealisasikan program-program mereka saat kampanye," jelasnya.

REKOMENDASI: Pilih saham infrastruktur, properti, perbankan.

Menurut Reza, pertumbuhan sektor infrastruktur yang diperkiakan akan tinggi pada tahun ini, membuat saham-saham di sektor tersebut diprediksi bakal moncer. Sektor properti dan perbankan juga masih akan menjadi pilihan pelaku pasar pada tahun ini.

Saham yang perlu dihindari: Saham -saham sektor energi, minyak dan gas, serta komoditas justru akan melemah. Hal itu terjdi seiring pelemahan harga minyak dunia yang berdampak pada pelemahan harga komoditas dunia.

Adapun nilai tukar rupiah diperkirakan paling pesimistis dapat menyentuh level Rp13.000 hingga akhir 2015. Sedangkan kondisi paling optimistis diperkirakan rupiah akan bergerak pada Rp12.400-12.600.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, pergerakan IHSG

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup