Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Minyak Dunia Ambrol, Waspadai Aksi Banting Saham Pertambangan

Penurunan harga minyak dunia berakibat pada kondisi negatif pasar komoditas. Namun ada dampak positif bagi saham di sektor konsumer, ritel, dan transportasi.
Rezza Aji Pratama, Annisa Margrit, Ardhanareswari
Rezza Aji Pratama, Annisa Margrit, Ardhanareswari - Bisnis.com 19 Januari 2015  |  21:40 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah analis menilai penurunan harga minyak dunia akan memberikan dampak negatif bagi saham di sektor komoditas, tetapi memberi angin segar bagi sektor konsumer dan ritel.

Harga minyak yang terus ambrol di bawah level US$50 per barel membuat kemungkinan investor terus membanting saham komoditas dan pertambangan. 

Sebagai gambaran, posisi indeks sektor pertambangan pada Agustus September lalu masih mencapai 1.600 hingga 1.650, tetapi pada penutupan perdagangan 15 Januari, indeks sektor pertambangan sudah tergerus menjadi 1.294,58.

Begitu pula imbal hasil (return) yang berkebalikan dengan imbal hasil IHSG, yang terus menanjak naik. Selama lima tahun terakhir hingga Desember 2014, return saham sektor pertambangan anjlok 29,41%, berkebalikan dengan return IHSG yang melonjak 122,61% pada kurun waktu tersebut.  

Berikut ini pandangan beberapa analis yang dihimpun Bisnis terkait dengan penurunan harga minyak dan dampaknya terhadap pasar saham Indonesia:

  • Satrio Utomo, Kepala Riset Universal Broker Indonesia,

Saat ini, katanya, pasar masih beradaptasi menghadapi tren penurunan harga minyak dunia yang diikuti keputusan pemerintah memakai skema subsidi tetap untuk bahan bakar minyak (BBM).

Dia menjelaskan skema subsidi tetap memang akan mengurangi beban APBN. Namun di sisi lain, skema ini membuat perusahaan sulit membuat rencana kerja karena harus menyesuaikan pergerakan harga minyak dunia. “Ini kan budaya baru. Pasar sepertinya masih bingung menyikapinya,” katanya.

Dari pasar saham, lanjutnya, emiten yang bergerak di sektor energi dan pertambangan harus mewaspadai tren penurunan harga minyak dunia yang terjadi saat ini.

Menurut Satrio, emiten yang bergerak di sektor pertambangan batu bara patut waspada karena konsumen berpotensi mengalihkan kebutuhan energi ke minyak mentah seiring dengan harga yang kian rendah.

Namun, Satrio menambahkan tren penurunan harga minyak dunia akan membawa dampak positif bagi beberapa sektor seperti konsumer, ritel, dan transportasi.

  • Suluh Adil Wicaksono, Analis PT Millenium Penata Finance,

Suluh mengatakan penurunan harga minyak dapat dilihat dari dua sisi. Selain memangkas ongkos produksi manufaktur, hal ini juga berarti perlambatan ekonomi karena permintaan melambat.

“Ini membuat sektor manufaktur juga terkena dampak penurunan harga minyak ini. Sektor sekunder seperti properti juga akan terkena dampak meskipun tidak secara langsung,” katanya.

  • Edward Manurung, Direktur Keuangan PT Indo Tambangraya Megah Tbk.

Edward mengatakan penurunan harga minyak dunia juga menunjukkan kondisi negatif pasar komoditas secara keseluruhan.

Namun, lanjutnya, kondisi ini juga dapat dilihat dari sisi positif. Menurutnya, perseroan bisa menekan biaya operasional. “Setiap penurunan harga sebesar US$10 per barel akan mengurangi biaya antara US$36 juta-US$40 juta dari total biaya operasi perseroan,” paparnya.

  • Michael Kusuma, Kepala Hubungan Investor PT Sampoerna Agro Tbk.

Michael  mengatakan penurunan harga minyak dunia membuat lini bisnis biodiesel tidak menguntungkan.

Dalam tiga bulan terakhir, menurutnya, sudah tidak ada lagi yang mengolah crude palm oil (CPO) menjadi biodiesel. Dampak penurunan harga minyak dunia, lanjutnya, dirasakan secara tidak langsung oleh perseroan jika kondisi itu juga ikut menekan harga CPO.

“Kalau pun ada, itu [biodiesel] bagian dari program subsidi pemerintah, jadi pasar tidak akan terlalu terpengaruh,” ujarnya.

Michael menilai harga minyak sawit mentah saat ini masih bertahan dan ada kecenderungan untuk menguat. Harga yang berlaku sejak awal tahun ini berada di kisaran 2.300 ringgit per ton.

Harga jual tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada September 2014, yakni di bawah 2.000 ringgit per ton. Adapun, harga terbaru yang ditetapkan perseroan berkisar Rp8.700 per kilogram.

  • Direktur Keuangan PT BW Plantation Tbk. Kelik Irwantono

Kelik menjelaskan penurunan harga minyak mentah dunia tidak akan terlalu mempengaruhi harga CPO saat ini. “Yang paling berpengaruh saat ini lebih kepada kondisi supply dan demand-nya. Kami cukup optimistis demand akan meningkat terus nantinya,” katanya.

  • Sekretaris Perusahaan PT Unilever Tbk. Sancoyo Antarikso

Sancoyo mengatakan ongkos distribusi berkontribusi sekitar 4,5% terhadap biaya operasional perseroan, sehingga penurunan harga minyak dapat memberikan dampak positif.

Tren pelemahan harga minyak dunia telah memicu penurunan harga BBM yang menjadi unsur penting dalam proses distribusi. Jika harga BBM tetap rendah, hal ini akan menguntungkan emiten yang bergerak di sektor fast moving consumer goods ini.

Selain itu, penurunan harga minyak mentah dunia juga akan memberikan dampak di biaya produksi. Hal ini mengingat beberapa produk Unilever juga menggunakan minyak mentah sebagai bahan baku. “Kalau harganya turun terus memang bagus buat kami. Namun, diperhatikan juga pergerakan dolar,” katanya.

  • Andre Djokosoetono, Direktur Blue Bird

Andre berpendapat perusahaan jasa transportasi merasakan dampak positif dari tren penurunan harga minyak dunia. “Daya beli masyarakat membaik dan pengemudi bisa berhemat. Karena masih awal tahun dan kebijakan [BBM] masih baru, saya belum tahu hitung-hitungannya,” kata Andre.

  • General Manager Corporate Secretary Express Transindo Merry Anggraini

Merry mengungkapkan, walaupun harga BBM jenis Premium dan Solar sudah turun, pihaknya belum mengubah tarif yang berlaku saat ini. “Tarif tergantung pada keputusan Organisasi Angkutan Darat (Organda). Kalau mereka menurunkan, kami ikut saja,” paparnya.

Merry menjelaskan emiten berkode saham TAXI itu menggunakan sistem setoran tetap kepada setiap pengemudi dan biaya BBM ditanggung masing-masing pengemudi. Oleh karena itu, perseroan tidak merasakan dampak langsung kenaikan maupun penurunan harga BBM.

Lantas apa kata pemerintah dan Bank Indonesia?

  • Menko Perekonomian Sofyan Djalil

Pemerintah menurunkan harga Premium menjadi Rp6.600 per liter dari posisi sebelumnya Rp7.600 per liter, sedangkan harga Solar diturunkan menjadi Rp6.400 per liter dari Rp7.250 per liter.

Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan harga minyak mentah dunia yang kian melemah. Pemerintah pun optimistis penurunan harga BBM bakal memacu deflasi selama Januari 2015.

“Saya yakin dampaknya pada Januari akan deflasi karena kami lihat juga padi sudah mulai dipanen di Banten, Jateng. Dengan turunnya harga BBM, kami berharap harga yang lain akan turun,” ungkap Sofyan.

  • Gubernur BI Agus Martowardojo

Agus menilai penurunan harga BBM pada awal tahun ini memang berpotensi memangkas inflasi hingga 0,5%. Kendati kecenderungan saat ini memperlihatkan inflasi Januari terkendali, pemerintah tetap perlu mewaspadai komponen harga lainnya.

Otoritas moneter masih melihat terbentuknya inflasi secara bulanan. Hingga pekan kedua awal tahun ini, Bank Indonesia mencatat inflasi ada di kisaran 0,26%-0,28%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak rekomendasi saham prediksi saham pergerakan IHSG

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor : Redaksi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top