Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Minyak WTI (31/8/2013) Turun ke US$108,8/Barel

Bisnis.com, NEW YORK - Harga minyak dunia turun untuk hari kedua berturut-turut pada Jumat (30/8/2013), menyusul berkurangnya spekulasi tentang serangan militer mendesak pimpinan AS terhadap Suriah atas dugaan penggunaan senjata kimia.

Bisnis.com, NEW YORK - Harga minyak dunia turun untuk hari kedua berturut-turut pada Jumat (30/8/2013), menyusul berkurangnya spekulasi tentang serangan militer mendesak pimpinan AS terhadap Suriah atas dugaan penggunaan senjata kimia.

Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober, turun US$1,15 menjadi ditutup pada US$108,80 per barel pada hari perdagangan terakhir Agustus dan menjelang libur panjang akhir pekan. Pasar AS akan ditutup pada Senin (2/9) untuk liburan Hari Buruh federal.

Di perdagangan London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Oktober turun US$1,07 menjadi US$114,01 per barel. Meskipun terjadi aksi jual, minyak masih diperdagangkan pada salah satu tingkat tertinggi bulan ini.

Pasar melonjak pada Rabu (28/8) untuk mengantisipasi serangan militer Barat terhadap Suriah, dengan minyak mentah New York mencapai US$112,24, tingkat tertinggi sejak awal Mei 2011.

Brent melonjak ke US$117,34 per barel, tingkat yang terakhir terlihat pada akhir Februari.

Tetapi harga minyak mundur kembali pada Kamis dan Jumat karena berkurangnya prospek untuk serangan mendesak terhadap Suriah atas dugaan penggunaan senjata kimia.

Minyak sempat terdorong lebih tinggi pada sesi perdagangan Jumat karena Menteri Luar Negeri AS John Kerry mempersiapkan sebuah argumen penuh semangat untuk "menyesuaikan" respon militer AS terhadap dugaan penggunaan senjata kimia pemerintah Suriah terhadap warga sipilnya sendiri.

Diplomat tertinggi AS itu mengutip sebuah laporan intelijen Gedung Putih yang memberikan "keyakinan tinggi" untuk pemerintahan Obama bahwa pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad bertanggung jawab atas serangan mematikan pada 21 Agustus.

Presiden AS Barack Obama tetap mengatakan ia belum membuat "keputusan akhir" tentang serangan pada Suriah.

Pada Kamis (29/8), sekutu utama AS, Inggris, keluar dari perencanaan serangan militer koalisi setelah pemungutan suara parlemen.
"Harga minyak terus berada di bawah pengaruh dari krisis Suriah," kata analis Commerzbank Carsten Fritsch.

Meskipun Suriah bukan produsen minyak utama, pedagang khawatir bahwa perang saudara di sana bisa memicu konflik lebih luas di Timur Tengah yang kaya minyak mentah.

"Setelah parlemen Inggris gagal menyetujui partisipasi Inggris dalam serangan militer terhadap Suriah, pendulum kini berayun kembali ke arah risiko menurun," tambah Fritsch.

"Sekalipun jika ini tidak menyiratkan melalui cara apapun bahwa aksi militer adalah tak mungkin, kampanye sepihak terbatas oleh AS mungkin akan jauh memberikan konsekuensi lebih sedikit untuk pasar minyak daripada serangan internasional." "Karena itu harga minyak berada di bawah tekanan besar." (Antara)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Sepudin Zuhri
Editor : Sepudin Zuhri
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper