Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bayar Kupon Obligasi, Smartfren Siapkan Dana Rp12,06 Miliar

Bisnis.com, JAKARTA-PT Smartfren Telecom Tbk telah menyiapkan dana senilai Rp12,06 miliar untuk pembayaran kupon Obligasi I Smartfren Telecom 2007.

Bisnis.com, JAKARTA-PT Smartfren Telecom Tbk telah menyiapkan dana senilai Rp12,06 miliar untuk pembayaran kupon Obligasi I Smartfren Telecom 2007.

Bank Permata yang bertindak sebagai wali amanat surat utang melaporkan emiten berkode saham FREN itu telah menyediakan dana untuk membayar kupon ke-26 obligasi yang terbit 6 tahun lalu dengan tingkat bunga tetap.

“Dana telah disiapkan dalam bentuk sinking fund [dana pembayaran utang]s di Bank Permata Tbk,” ujar Trust Senior Officer Bank Permata Sarah Ingrid dalam informasi yang dirilis pada Senin(19/8).

Sayangnya, perseroan tidak menanggapi pertanyaan yang diajukan Bisnis terkait dengan sumber dana pembayaran kupon tersebut berasal.

Sebagai informasi, operator telekomunikasi tersebut telah memperoleh fasilitas pinjaman dari China Development Bank senilai US$350 juta pada Juni 2011 dan US$50 juta pada Maret 2013. Selain itu, First Anglo Financial Pte Ltd juga memberi suntikan dana US$90 juta pada April 2013.

Pada 2012, perseroan menghabiskan dana untuk belanja modal senilai US$260 juta dari pinjaman tersebut. Jadi, sisa sebanyak US$230 juta kemungkinan digunakan pada tahun ini.

Dalam paparan publik Juni lalu, Presiden Direktur Smartfren Rodolfo P. Panjota menyebutkan pihaknya sedang berekspansi membangun 1.500 menara pemancar atau base transceiver station (BTS) dengan perkiraan kebutuhan dana sekitar Rp1,5 triliun.

Menurut dia, BTS yang mulai beroperasi pada Agustus 2013 akan mampu mendorong perolehan laba sebelum pajak yang positif pada semester kedua tahun ini.

Berdasarkan laporan keuangan semester I/2013, pendapatan Smartfren tercatat naik 68% menjadi Rp1,13 triliun dari perolehan omzet periode yang sama tahun lalu Rp670 miliar.

Akan tetapi, perseroan malah mengalami pembengkakan rugi bersih sebesar 23% dari semula rugi Rp674 miliar menjadi rugi Rp831 miliar. Hal itu terjadi karena tingginya beban usaha dari semula Rp1,51 triliun menjadi Rp1,92 triliun.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Lavinda
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper