Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Semester I, Vale Bukukan Laba US$44,06 juta

Bisnis.com, JAKARTA—PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan laba periode berjalan sepanjang semester I/2013 sebesar US$44,06 juta, naik nyaris 700% dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$5,52 juta.
Vega Aulia Pradipta
Vega Aulia Pradipta - Bisnis.com 15 Agustus 2013  |  19:00 WIB
Semester I, Vale Bukukan Laba US$44,06 juta
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan laba periode berjalan sepanjang semester I/2013 sebesar US$44,06 juta, naik nyaris 700% dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$5,52 juta.

 Seperti dikutip dari laporan keuangan, Kamis (15/8/2013), pendapatan mencapai US$505,69 juta, naik 18,8% dari US$425,38 juta. Beban pokok pendapatan US$413,1 juta, naik 7,8% dari US$382,99 juta, seiring dengan naiknya volume penjualan.

“Pada semester I/2013, volume penjualan nikel meningkat 33% mengimbangi penurunan harga realisasi ratarata sebesar 11%,” ungkap keterangan resmi Vale seperti dikutip, Kamis (15/8/2013).

Produksi nikel dalam matte sepanjang enam bulan pertama mencapai 37.732 metrik ton, naik 30,1% dari 28.993 metrik ton. Sedangkan, penjualan nikel matte mencapai 39.008 metrik ton, naik 33,28% dari 29.266 metrik ton.

Adapun harga realisasi rata-rata nikel mencapai US$12.964 per metrik ton, turun 10,8% dari US$14.535 per metrik ton.

Manajemen Vale mengungkapkan bahwa biaya bahan bakar dan biaya pelumas khusus pada kuartal II/2013 meningkat 8%. Perseroan mengkonsumsi 679.306 barel minyak bakar bersulfur tinggi (HSFO), dengan biaya ratarata US$100,76 per barel dibandingkan dengan 607.539 barel dengan biaya ratarata US$103,05 per barel pada kuartal sebelumnya.

“Kami juga menggunakan 14.732 kiloliter bahan bakar diesel dengan biaya ratarata US$0,85 per liter, sementara pada kuartal I/2013 sebesar 14.433 kiloliter dengan biaya ratarata yang sama,” ungkap manajemen.

Pemakaian HSFO tersebut diklaim akan menurun secara signifikan saat Proyek Konversi Batu bara Tahap 1 (Coal Conversion Project – CCP1) selesai. Proyek ini diyakini akan menghemat biaya perseroan secara signifikan.

“Dengan situasi harga nikel yang terus bergejolak, sangat penting bagi perseroan untuk mengontrol biayanya dengan hatihati,” ungkap manajemen.

Selain upaya yang disebutkan di atas, Vale juga terus melanjutkan pengembangan berbagai inisiatif penghematan biaya untuk meningkatkan efisiensi yang berkelanjutan, tanpa mengkompromikan nilai perseroan bahwa keselamatan jiwa merupakan hal terpenting. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

laba vale indonesia tbk semester i/2013
Editor : Ismail Fahmi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top