PTBA Mulai Operasikan 230 Gerbong Kereta Baru

Bisnis.com, PALEMBANG- PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sejak Juli mulai mengoperasikann 44 unit lokomotif dan 230 gerbong kereta angkutan batubara baru di Sumsel untuk meningkatkan kemampuan daya angkut jalur kereta pascalarangan distribusi batubara via jalan
Irsad | 02 Agustus 2013 13:55 WIB

Bisnis.com, PALEMBANG- PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sejak Juli mulai mengoperasikann 44 unit lokomotif dan 230 gerbong kereta angkutan batubara baru di Sumsel untuk meningkatkan kemampuan daya angkut jalur kereta pascalarangan distribusi batubara via jalan darat.

Kereta batubara menjadi sarana angkutan paling efektif bagi perusahaan tambang BUMN itu untuk distribusi dari lokasi tambang ke pelabuhan pengapalan di Tarahan, Lampung dan Kertapati Palembang dengan target meningkatkan daya angkut dari 15 juta per tahun menjadi 25 juta.

Sekretaris Perusahaan PTBA Joko Pramono mengatakan lokomotif dan gerbong barang itu sudah didatangkan secara bertahap sejak Maret sehingga meningkatkan jumlah lomokotif yang dioperasikan menjadi 90 unit dan gerbong barang menjadi 2.430 unit.

"Angkutan dengan kereta lebih efektif. Sekarang kami pakai 78 lokomotif dengan 2.148 gerbong untuk rute Tanjung Enim ke Pelabuhan Tarahan di Lampung. Yang 12 lokomotif dan 282 gerbong lagi untuk untuk jalur Tanjung Enim ke dermaga Kertapati," katanya di Palembang, Kamis (1/8) malam.

Hal itu, lanjutnya, sejalan dengan target jangka pendek untuk meningkatkan angkutan kereta menjadi 22,7 juta ton per tahun pada 2014.
Terlebih lagi, tuturnya, hal itu sangat dibutuhkan bagi pengembangan pelabuhan batubara di Tarahan, Lampung yang juga ditingkatkan kapasitasnya dari 13 juta ton per tahun menjadi 25 juta ton.

"Kalau kapasitas Pelabuhan Tarahan ditingkatkan akan mampu disandari kapal angkutan batubara dengan bobot hingga 150.000 DWT atau meningkat daripada sebelumnya yang cuma mampu disinggahi kapal dengan bobot 80.000 DWT.

Joko mengatakan pengembangan kapasitas media distribusi batubara itu menjadi salah satu kunci bagi pengembangan bisnis tambang yang dikelola perseroan.

Hal itu, lanjutnya, seiring dengan peningkatkan volume produksi dan penjualan batubara dalam beberapa tahun ke depan. Di sisi lain, menurut dia, PTBA menghadapi persoalan yang cukup pelik terkait dengan harga penjualan batubara yang terus menurun dengan tajam.

Dia mengatakan hal itu bisa dilihat dari perkembangan indeks harga batubara kualitas bagus dengan kalori di atas 6300 yang jatuh dari US$113 per ton menjadi sekitar US$70 per ton.

"Kondisi penurunan harga ini sudah memukul industri tambang batubara hingga berdampak banyak perusahaan tambang batubara yang memberhentikan karyawannya. kalau kami masih berusaha tidak melakukan PHK. Malah tahun ini kami nambah karyawan sekitar 300 orang," tuturnya.

Salah satu langkah yang ditempuh untuk mencegah makin parahnya dampak penurunan kinerja, ungkapnya, dengan menaikan volume penjualan yang dipatok mencapai 20% sehingga bisa mengimbangi penurunan pendapatan yang disebabkan harga komoditas yang jatuh.

Joko menjelaskan selama semester I 2013 telah berhasil menaikan volume penjualan sebesar 20% atau menjadi 8,81 juta ton dengan tujuan pasar 53% untuk ekspor dan 47% untuk pasar domestik.

"Penaikan volume penjualan ini juga belum bisa mengimbangi dampak dari penurunan harga sehingga pendapatan pada semester I/ 2013 tetap turun 6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kami membukukan nilai penjualan sebesar Rp5,43 triliun," ungkapnya lagi.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ptba, bukit asam

Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top