Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga CPO Naik, Terkerek Turunnya Ringgit

Bisnis.com, KUALA LUMPUR—Harga minyak kelapa sawit (CPO) merangkak naik dalam 2 hari terakhir hingga level tertinggi pasca-spekulasi merosotnya nilai ringgit membuat Malaysia menggenjot ekspornya.
Ardhanareswari AHP
Ardhanareswari AHP - Bisnis.com 31 Juli 2013  |  14:36 WIB
Harga CPO Naik, Terkerek Turunnya Ringgit
Bagikan

Bisnis.com, KUALA LUMPUR—Harga minyak kelapa sawit (CPO) merangkak naik dalam 2 hari terakhir hingga level tertinggi pasca-spekulasi merosotnya nilai ringgit membuat Malaysia menggenjot ekspornya.

Menurut Han Qiang Sim, analis dari Phillip Futures Pte di Singapura, ketika ringgit melemah, para pengimpor akan menganggap CPO lebih murah.

“Ekspor mulai naik karena ringgit melemah, Harga juga dipengaruhi faktor-faktor teknis,” kata Han Qiang, hari ini, Rabu (31/7/2013).  Adapun para analis mengindikasikan harga CPO jatuh terlalu cepat dan akan berhenti meningkat.

Kontrak untuk pengiriman CPO pada bulan Oktober naik 1,4% menjadi 2.245 ringgit (US$691) per ton di Bursa Malaysia Derivatives (BMD). Harga tersebut adalah yang tertinggi sejak 24 Juli. Sesi pagi di BMD ditutup pada level 2.223 ringgit.

Bursa berjangka kelapa sawit berhadapan pada penurunan sebesar 5,2% bulan ini, tertinggi sejak Februari, setelah pada 26 Juli mencapai harga terendah sejak Oktober 2009. Adapun pengiriman CPO dari Malaysia naik 4,2% menjadi 1,41 juta ton pada bulan Juli.

Sementara itu,  nilai ringgit menurun tajam dalam 3 minggu terakhir hingga ke level terendahnya sejak Juli 2010 setelah Fitch Ratings, lembaga penyusun peringkat kredit global, mengubah posisi kredit Malaysia dari stabil menjadi negatif. (Bloomberg)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga cpo ringgit

Sumber : Newswire

Editor : Ismail Fahmi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top