Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

VALUTA ASING: Pemegang DOLAR AS Bersiap Raup Untung

MEDAN: Mulai akhir bulan ini, tampaknya menjadi masa keberuntungan bagi pemegang dolar Amerika Serikat karena mulai langka di pasar, meskipun bank sentral (The Reserve) sudah membanjiri stimulus monter senilaiUS$2,3 triliun ke sistem keuangan.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 29 Mei 2012  |  15:41 WIB

MEDAN: Mulai akhir bulan ini, tampaknya menjadi masa keberuntungan bagi pemegang dolar Amerika Serikat karena mulai langka di pasar, meskipun bank sentral (The Reserve) sudah membanjiri stimulus monter senilaiUS$2,3 triliun ke sistem keuangan.

 

Langkanya salah satu mata uang utama dunia ini terjadi menyusul penurunan nilai aset berkualitas tinggi di seluruh dunia, sehingga investor memilih mengalihkan investasi ke dalam bentuk tunai daripada mempertahankan atau membeli aset.

 

Berdasarkan kurs Bank Indonesia, pagi ini, 1 dolar AS berada di posisi Rp9.522 untuk jual dan Rp9.428 untuk harga kurs beli. Kurs dolar AS berada pada urutan keenam termahal dibandingkan dengan rupiah, setelah dinar Kuwait, pound sterling, yen, euro dan franc Swiss.

 

Data Bloomberg menyebutkan dibandingkan dengan angka pada 27 Juni tahun lalu, nilai dolar AS menguat dari 16 mata uang utama dunia. Indeks Intercontinental Exchange Inc.’s Dollar menguat 12%.

 

Nilai dolar sekarang lebih tinggi dari angka sejak bank sentral mulai mencetak dolar AS untuk membeli obligasi dalam program stimulus darurat pada akhir 2008. Seiring dengan pelaksanaan program itu, nilai aset-aset berkualitas di dunia turun 42%.

 

Investor internasional dan lembaga keuangan hanya ingin memiliki aset dengan nilai terbaik yang memenuhi kriteria investasi atau regulasi baru, di luar aset berdenominasi dolar AS.

 

Amerika Serikat adalah salah satu lima negara di dunia yang credit-default swaps perdagangan utangnya di bawah 100 basis poin. Artinya, hampir tidak ada risiko gagal pada utang mereka. Pada delapan tahun lalu, delapan dari 10 negara G-20 masuk dalam kategori ini.

 

“Nilai aset turun, tidak hanya pada kawasan euro, tetapi juga di kawasan lain. Penurunan nilai euro dan aet menyebabkan daya tarik pasar zona euro merosot,” ujar Ian Stannard, Head of Europe Currency Strategy Morgan Stanley, melalui sambungan telepon. (yus)

 

BACA JUGA:

 

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Erna S.U. Girsang

Editor : David Eka Issetiabudi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top