Makin murah, emas telah 5 kali turun

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 29 September 2011  |  07:20 WIB

 

JAKARTA: Harga emas menurun untuk kelima kalinya dalam enam sesi sebagai reaksi atas pulihnya dolar sehingga mengikis permintaan untuk logam mulia itu sebagai alternatif investasi. Pemicu lainnya adalah kekhawatiran bahwa ekonomi global akan goyah dan bahan baku yang lebih rendah.
 
Negara paling maju tergelincir kembali ke dalam resesi, sedangkan AS sudah dalam pergolakan kontraksi ekonomi, kata Nouriel Roubini, chairman of Roubini Global Economics LLC. Greenback naik sebanyak 0,7% hari ini terhadap sekeranjang mata uang, dan Indeks Standard & Poor 500 turun 2,1%. Indeks S&P GSCI, indikator dari 24 bahan baku, menuju kemerosotan kuartalan terbesar sejak 2008.
 
"Investor memperdagangkan emas sebagai komoditas hari ini," kata Frank Lesh, seorang pedagang di FuturePath Trading di Chicago, dalam sebuah wawancara telepon. "Kekuatan dalam dolar tidak membantu masalah ini menjadi lebih baik."
 
Emas berjangka untuk pengiriman Desember turun US$34,40, atau 2,1%, untuk menetap di posisi US$1.618,10 pada pukul 1:43 di Comex, New York. Dalam perdagangan setelah dicatatkan, logam mulia itu menyentuh US$1.600,50. Harga tersebut telah jatuh 16% dari rekor US$1.923,70 pada 6 September.
 
Perak berjangka untuk pengiriman Desember turun US$1.402, atau 4,4%, ke US$30,134 per ounce di New York.
 
Pada 26 September, kontrak paling aktif turun sebanyak 13% ke level terendah 10 bulan menjadi US$26,15. Kemarin, harga melonjak 5,2%.
 
"Kami akan keluar dari pasar perak saat ini," kata Edel Tully, seorang analis di UBS AG, yang berbasis di London, dalam sebuah laporan. "Ini adalah yang paling irasional dari logam, dan tentu bukan untuk pengecut."
 
Di New York Mercantile Exchange, platinum berjangka untuk pengiriman Januari merosot US$39,30, atau 2,5%, menjadi US$1.538,10 per ounce. Palladium berjangka untuk Desember turun US$15,20, atau 2,3%, ke posisi US$634,75 per ounce. (ln)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Lahyanto Nadie/Bloomberg

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top