Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga minyak naik 1,3%

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 26 September 2011  |  08:44 WIB

 

SYDNEY: Harga minyak naik dari posisi terendah dalam 6 minggu di New York karena investor berspekulasi pembuat kebijakan Eropa akan mengambil langkah-langkah untuk meredakan krisis utang yang telah mengganggu pasar keuangan dan perekonomian melambat.
 
Minyak berjangka meningkat 1,3%, naik pertama setelah 4 hari perdagangan sebelumnya merosot. Hal itu dipengaruhi tekanan Dana Moneter Internasional agar para petinggi  Eropa meningkatkan dana penyelamatan krisis regional. 
 
Di Bursa komoditas Sydney, Australia, harga minyak mentah untuk pengiriman November berada di level US$80,50 per barel pada sesi perdagangan pagi pukul 10:16 waktu setempat dan di New York Mercantile Exchange dan berada pada US$80,50 per barel.
 
Harga minyak tersebut naik US$1 (1,3%) sekaligus merupakan koreksi setelah lalu turun 9,2% menjadi US$79,85 dan merupakan level terendah sejak penyelesaian 9 Agustus. 
 
Adapun harga minyak tipe Brent untuk pengiriman November berada di US$104,58 per barel atau naik 61 sen di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London. Acuan kontrak Eropa itu US$24,08 lebih tinggi dari minyak berjangka AS dan masih di bawah rekor US$26,87 pada 6 September.
 
Dalam pertemuan tahunan IMF di Washington Menteri Keuangan AS Timothy F. Geithner mengatakan bahwa pemerintah harus bersatu dengan Bank Sentral Eropa untuk membuat dinding pembatas terhadap penularan lebih lanjut. Dia menyebutnya sebagai upaya  meredakan risiko yang paling serius sekarang dihadapi perekonomian dunia. 
 
"Saya pikir semua orang sekarang sepenuhnya memahami implikasi dari gagal bayar Yunani. Kuncinya adalah apakah benar atau tidak bahwa pasar percaya dukungan semacam ini akan benar-benar bekerja." kata Jonathan Barrat, Direktur Utama Commodity Broking Services Pty di Sydney kepada Bloomberg. (M.Taufikul Basari/sut)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bloomberg

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top