Harga minyak akan tinggi sampai akhir musim dingin

JAKARTA: Indonesia Petroleum Association memperkirakan harga minyak dunia akan cenderung tinggi sampai dengan musim dingin di negara-negara Eropa, Amerika, dan China berakhir.
Aurelia Nelly | 17 Desember 2010 09:59 WIB

JAKARTA: Indonesia Petroleum Association memperkirakan harga minyak dunia akan cenderung tinggi sampai dengan musim dingin di negara-negara Eropa, Amerika, dan China berakhir.

Sammy Hamzah, Wakil Ketua Asosiasi Perminyakan Indonesia (Indonesia Petroleum Association/IPA), mengatakan permintaan minyak dunia naik seiring musim dingin yang terlampau dingin di negara konsumen minyak dunia yaitu Amerika, negara-negara Eropa, dan China.

Hal itu, ujarnya, akan mendorong harga minyak ke level yang cenderung tinggi sampai dengan musim dingin di negara konsumen minyak tersebut berakhir.

Musim dingin yang luar biasa dingin membuat konsumsi minyak naik. Permintaan diperkirakan akan terus naik sampai musim dingin berlalu sehingga harga akan cenderung tinggi. Saat ini seharusnya harga minyak di kisaran US$80 US$90 per barel, ujarnya, hari ini.

Dia mengemukakan selain faktor konsumsi, harga minyak juga akan dipengaruhi aksi spekulasi dan situasi dan sikap politik negara-negara konsumen dan produsen minyak.

Hari ini Bloomberg melaporkan harga minyak dunia akhirnya mengalami kenaikan setelah berada dalam level terendah dalam dua minggu, dipicu oleh penurunan klaim pengangguran AS secara tidak terduga dan keuntungan sektor perumahan yang didukung prospek ekonomi.

Harga minyak naik sebesar 0,8% setelah Departemen Ketenagakerjaan mengatakan aplikasi asuransi pengangguran jatuh hingga ke level terendah dalam 3 pekan.

Sementara itu, dolar melanjutkan penurunannya terhadap euro menyusul pertumbuhan kepercayaan diri investor bahwa krisis utang-istimewa di Eropa akan tertahan. Mata uang AS yang lebih lemah meningkatkan daya tarik investasi komoditi.

Ken Hasegawa, Manager Penjualan komoditas derivatif pada broker Newedge yang berbasis di Tokyo, mengatakan indikator ekonomi yang baik menyebabkan harga minyak mentah pada akhir pekan naik ke US$89.

Rebound mungkin terjadi jika harga minyak mentah jatuh ke US$87 per barel, ujarnya seperti dikutip Bloomberg, hari ini.

Minyak mentah untuk pengiriman Januari naik sebesar 67 sen menjadi US$88,37 per barel pada perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange. Kontrak, yang berakhir 20 Desember, berada pada level US$88,21 pada 14:34 waktu Singapura.

Kemarin, kontrak turun 1% menjadi US$87,7 per barel, pelunasan terendah sejak 1 Desember. Futures telah mendapatkan 0,5% pekan ini setelah turun 1,6% akhir pekan lalu.(02)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top