Biaya Penyimpanan Naik 40%, Petani Komoditas Biji-Bijian AS Repot

Petani komoditas pertanian khususnya jenis biji-bijian semakin kesulitan menyimpan panen karena harus membayar 40% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu.
Mutiara Nabila | 22 November 2018 19:56 WIB
Ilustrasi. - JIBI/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Petani komoditas pertanian khususnya jenis biji-bijian semakin kesulitan menyimpan panen karena harus membayar 40% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu.

Konsultan pertanian Matt Bennett memperkirakan bahwa jumlah tersebut akan seharga US$3 – US$6 sen per bushel, harga yang cukup tinggi untuk dibayarkan petani dan akan mengurangi penghasilan.

Harga untuk penyimpanan biji-bijian naik tajam, tergantung lokasinya. Gudang biji-bijian yang berlokasi di dekat sungai cenderung harus membayar lebih tinggi dibandingkan dengan yang di pedalaman karena mereka lebih bergantung pada pasar ekspor.

Sejumlah petani yang berada di dekat sungai harus membayar US$60 sen per bushel untuk menyimpan pasokan kedelainya hingga akhir tahun ini, biaya tersebut naik dua kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu.

Perang dagang semakin memperburuk masalah terkait dengan penyimpanan, yang sudah menjadi masalah yang selama ini dihadapi dalam beberapa tahun terakhir karena jumlah pasokan yang berlimpah.

Bahkan sebelum panen musim gugur ini, sekitar 20% dari keseluruhan penyimpanan yang tersedia sudah penuh dengan komoditas jagung, kedelai, dan gandum dari panen sebelumnya. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi untuk pertama kalinya dalam 12 tahun.

Petani dan Wakil Predisen di Relyance Bank Arkansas Russell Altom mengungkapkan bahwa saat ini sejumlah perusahaan biji-bijian juga menarik biaya tambahan bagi petani yang tidak memberikan kedelai dalam kualitas baik.

“Saya baru mengalami hal seburuk ini. Saya sudah mendapat kabar bahwa sejumlah petani sudah merekrut pengacara supaya bisa memperjelas apakah mereka bisa menuntut masalah harga dan biaya ini kepada perusahaan yang melakukan penarikan biaya itu,” ujar Altom.

Eric Maupin, petani di Newbern, Tennessee, mengatakan bahwa dirinya saat ini harus membayar tamabahan harga dari US$60 sen hingga US$1,20 per bushel di Bunge daerahnya, jumlah tersebut tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan harga tahun lalu.

“Kerusahan tanaman seperti biji yang tidak utuh, ukuran yang tidak sama, atau apapun membuat perusahaan penyimpanan itu menambahkan biaya kepada kami,” kata Maupin.

Sejumlah petani juga menarik alat pertaniannya dari ladang untung memberi ruang tambahan untuk menyimpan panen yang berlebih sehingga tidak harus membayar ke perusahaan penyimpanan dengan harga yang tinggi.

Tag : komoditas
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top