Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pasokan Surplus, Harga Karet Belum Kencang

Harga karet melemah setelah berakhir stagnan dua hari berturut-turut pada perdagangan sebelumnya, tertekan oleh meningkatnya cadangan global serta ekspektasi terjadinya surplus pada tahun ini.
Pekerja memuat getah karet di tempat penampungan karet sementara Singkut, Sarolangun, Jambi, Kamis (19/10)./ANTARA-Wahdi Septiawan
Pekerja memuat getah karet di tempat penampungan karet sementara Singkut, Sarolangun, Jambi, Kamis (19/10)./ANTARA-Wahdi Septiawan

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet melemah setelah berakhir stagnan dua hari berturut-turut pada perdagangan sebelumnya, tertekan oleh meningkatnya cadangan global serta ekspektasi terjadinya surplus pada tahun ini.

Pada penutupan perdagangan Kamis (1/3/2018), harga karet kontrak terakhir Agustus 2018 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) ditutup melemah 1,30 poin atau 0,67% menuju level 192,50 yen per kilogram (kg). Secara year to date (ytd), harga melemah 5,73%.

Sebelumnya, harga karet dibuka di zona merah dengan penurunan 0,21% di level 193,40, setelah berakhir stagnan di level 193,80 yen per kg pada perdagangan Rabu (28/2).

Takaki Shigemoto, analis dari JSC, mengatakan harga karet di bursa komoditas tertekan oleh kekhawatiran bahwa cadangan karet di Jepang dan China akan terus meningkat di tengah rendahnya permintaan.

Berdasarkan data Asosiasi Karet Jepang yang dirilis Kamis (1/3), cadangan karet mentah Jepang tercatat meningkat 1,5% per 10 Februari 2018 ke level 14.956 ton.

Adapun, cadangan karet yang dimonitor oleh Shanghai Futures Exchange (SHFE) naik 0,1% ke level 434.550 ton pekan lalu, kenaikan 13 pekan berturut-turut.

Analis Central Capital Futures Wahyu T. Laksono mengatakan, melemahnya harga karet dipicu oleh membesarnya suplai yang meningkatkan kekhawatiran bahwa produksi karet global tumbuh dengan laju yang lebih cepat daripada permintaan.

“Hal ini tidaklah terlepas daripada peran negara—negara produsen terbesar dunia yang tergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC), yaitu Thailand, Indonesia, dan Malaysia,” kata Wahyu kepada Bisnis baru—baru ini.

Pada Desember tahun lalu, ketiga negara yang berkontribusi hingga 70% dari total produksi global tersebut telah sepakat menerapkan konsep Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) atau pembatasan ekspor karet sebanyak 350.000 ton yang berlangsung 3 bulan dari Januari—Maret 2018.

Pada 2018, permintaan karet dunia diproyeksikan meningkat 2,3% menjadi 12,4 juta ton, sementara pasokan diprediksi mencapai 12,5 juta ton, naik 3% dari tahun lalu.

“Diperkirakan pada kuartal I/2018, harga karet bergerak di kisaran 153,20 yen—206,10 yen per kilogram.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Eva Rianti
Sumber : Bloomberg

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper