Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Dibayangi Kenaikan Suku Bunga, Intip Prosepek Emiten Sektor Properti 2023

Prospek emiten sektor properti di 2023 dinilai akan mengalami perlambatan kinerja, hal ini seiring dengan kenaikan suku bunga yang masih membayang-bayangi.
Tengara BSD City di kawasan Bumi Serpong Damai. BSD City merupakan salah satu proyek yang digarap oleh PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) /bsdcity.com
Tengara BSD City di kawasan Bumi Serpong Damai. BSD City merupakan salah satu proyek yang digarap oleh PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) /bsdcity.com

Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan suku bunga masih menjadi sentimen negatif yang membayang-bayangi prospek emiten sektor properti menjelang tahun 2023. Hal ini karena mayoritas masyarakat membeli properti dengan skema KPR (Kredit Pemilikan Rumah).

Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei mengatakan dampak dari kenaikan suku bunga akan membuat kinerja emiten properti melambat.

“Untuk kinerja tahun depan kemungkinan akan tumbuh flat karena high-base effect yang terjadi di tahun ini,” ujar Jono kepada Bisnis, Senin (26/12/2022).

Namun, Jono menyebut, perlambatan itu baru akan terlihat dari capaian marketing sales para emiten properti pada semester I/2023. Emiten properti yang dinilai dapat bertahan adalah emiten yang memiliki neraca keuangan sehat dan sumber pendapatan berulang atau recurring income yang moncer.

Adanya pendapatan berulang dapat menopang kinerja keuangan emiten properti apabila penjualan daripada real estate menurun. Beberapa emiten properti yang dinilai memiliki pendapatan berulang kuat adalah PWON, SMRA, dan CTRA.

Meski demikian, Jono mengatakan dalam jangka panjang permintaan properti akan terus tumbuh meski adanya kenaikan suku bunga. Pertumbuhan permintaan datang karena adanya peningkatan populasi.

“Industri properti juga memiliki efek berantai terhadap banyak industri lainnya,” ujar Jono.

Secara terpisah, Analis Phintraco Sekuritas Rio Febrian mengatakan adanya kenaikan suku bunga telah menekan permintaan masyarakat dalam membeli properti akibat tingginya tingkat bunga KPR. Kenaikan suku bunga dari BI sebesar 25 basis poin ke 5,5 persen juga ditimbulkan akibat tingkat inflasi yang cenderung tinggi.

Dalam menyiasati menurunnya permintaan rumah, BI kembali memperpanjang pelonggaran rasio Loan to Value (LTV) dan Financing to Value (FTV) untuk KPR atau pembiayaan properti maksimal 100% hingga 31 Desember 2023 mendatang. Adapun secara keseluruhan, pemulihan aktivitas perekonomian juga turut mendorong peningkatan dari sisi retail sales.

“Hal ini sebagai langkah antisipatif terhadap dampak dari kecenderungan kenaikan suku bunga acuan BI  di akhir tahun 2022 hingga awal 2023 yang berpotensi meningkatkan bunga KPR,” ujar Rio kepada Bisnis, Senin (26/12/2022).

Lebih lanjut, Rio mengatakan indeks permintaan properti komersial mencatatkan adanya pertumbuhan sejak pandemi pada 2020. Indeks ini naik dari 102,84 pada 2021 menjadi 103,1 pada tahun 2022.

Tren positif ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan pengeluaran dari masyarakat untuk membeli properti. Faktor ini juga berpotensi mendorong emiten properti untuk melakukan ekspansi usaha dan meningkatkan kinerja pendapatan.

“Kedua faktor diatas berpotensi meredam dampak negatif dari kenaikan suku bunga acuan dengan potensi pemulihan recurring income dari sektor properti, sejalan dengan kecenderungan pemulihan aktivitas masyarakat dapat menjadi sentimen positif lain,” jelas Rio.

Rio merekomendasikan saham PWON, BSDE, dan CTRA. Ketiga saham ini dinilai memiliki rasio keuangan yang positif dibandingkan rata-rata saham properti pada kuartal III/2022.

> PWON - buy on support

Stochastic RSI sudah di overbought area. Potensi pelemahan mulai terbatas. Bisa entry jika mulai konsolidasi di area support

Target : 480

Entry : 434-440

Stoploss : <420

> BSDE - Speculative Buy

Stochastic RSI mengindikasikan pembentukan goldencross di oversold area. Hal ini mengindikasikan potensi bullish reversal. Selama bertahan di atas 900, indikasi bullish reversal masih terjaga.

Target 2 : 1.005

Target 1 : 950

Entry : 905-920

Stoploss : 870-880

> CTRA - Wait and See

Stochastic RSI mengindikasikan pembentukan goldencross di oversold area. Potensi bullish reversal, jika bertahan diatas 930.

Target : 970-980

Entry : >930

Stoploss : <905

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper